Inovasi lain yang cukup unik adalah konsep multi-club servicing. Jika banyak investor membeli beberapa klub sekaligus, Como justru menawarkan layanan bisnis kepada klub lain.

Mulai dari pengelolaan merchandise, toko resmi, e-commerce hingga distribusi produk fashion.

Model berbagi pendapatan tersebut sudah menarik minat 14 klub dari Inggris, Prancis, Timur Tengah hingga Major League Soccer (MLS).

Dengan strategi itu, Como tidak hanya memperoleh pemasukan dari performanya sendiri, tetapi juga dari layanan yang diberikan kepada klub lain.

Mirwan menyebutkan, valuasi Como saat ini mendekati 1 miliar euro atau sekitar Rp19 triliun. Angka tersebut biasanya hanya dimiliki klub-klub elite Liga Inggris.

Dia menegaskan Como tidak ingin dikenal sebagai klub sepak bola biasa. Ia ingin menjadikan Como sebagai perusahaan olahraga dan hiburan global.

Filosofi besarnya bahkan cukup sederhana. “Saya ingin menjadi seperti Disney.”

Artinya, Como tidak hanya memikirkan pertandingan sepak bola, tetapi juga membuka peluang bisnis baru di sektor media, hiburan, hotel, hingga produksi konten.

Strategi itulah yang membuat Como 1907 kini dipandang sebagai salah satu model transformasi klub sepak bola paling inovatif di Eropa. (Wartabanjar.com)