Demi Bersaing di Liga Champions, Como Kini Lirik Penyerang Buangan Juventus
Klub yang diakuisisi oleh Hartono Bersaudara tersebut berhasil finis di urutan keempat di klasemen akhir Liga Italia musim lalu.
Posisi itu membuat Como 1907 mengeklaim satu tempat untuk bermain di Liga Champions.
Como memang menjadi salah satu fenomena paling menarik dalam dunia sepak bola Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, klub yang dimiliki keluarga Hartono melalui Djarum Group itu, tak hanya sukses menembus papan atas Serie A, tetapi juga membangun model bisnis yang berbeda dibanding mayoritas klub sepak bola dunia.
Adalag sosok Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, yang justru datang dari dunia industri kreatif dan pemasaran, bukan dari latar belakang sepak bola profesional.
Dalam podcast Business of Sport, Mirwan mengungkap bahwa sejak awal mereka sadar Como tidak bisa bertahan jika hanya mengandalkan bisnis sepak bola konvensional.
Diceritakannya, bahwa saat masih bermain di Serie B, Como menghadapi persoalan yang juga dialami banyak klub kecil di Eropa.
Pendapatan hak siar televisi hanya sekitar 5 juta euro atau sekitar Rp95 miliar per musim, sementara biaya operasional klub mencapai 11-15 juta euro, atau sekitar Rp209 miliar hingga Rp285 miliar. Tentu itu artinya boncos dari sisi bisnis.
Situasi semakin sulit karena stadion Como hanya mampu menampung sekitar 5.000 penonton. Jumlah ini jauh lebih kecil dibanding klub lain, yang bisa memperoleh pemasukan besar dari penjualan tiket.
Dari kondisi itulah muncul pertanyaan sederhana yang kemudian mengubah arah bisnis klub. “Bisakah kami bukan hanya sekedar klub sepak bola, tetapi destinasi wisata olahraga?,” ucapnya.
Inspirasi tersebut muncul setelah mereka melihat rombongan wisatawan asal Inggris yang rutin datang ke Danau Como.
Awalnya mereka berniat menonton AC Milan, tetapi karena Milan sedang bermain tandang, mereka justru menyaksikan pertandingan Como yang kala itu masih berada di divisi bawah. Pengalaman sederhana itu membuat mereka menjadi pendukung setia Como.