Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar memperkirakan kerugian yang dialami para pembudidaya ikan akibat musibah ini setidaknya Rp1,3 miliar.

Selain itu, sedikitnya 200 karamba jala apung juga mengalami kerusakan.

Kabid Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah mengatakan secara umum, kematian massal ikan ini dikarenakan musim kemarau ekstrem.

Selain itu, beradar hasil pemantauan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di perairan hanya berkisar 0,59 hingga 1 ppm.

Angka tersebut jauh di bawah kondisi ideal bagi kehidupan ikan.

Akibatnya, ikan kesulitan bernapas, membuatnya mengapung ke permukaan, lalu mati. (wartabanjar.com/yoh)