Contoh lainnya adalah sakit emosional, yaitu ketika ada anak lain merebut mainannya. Si Kecil tantrum karena tidak bisa menjelaskan dengan baik kenapa ia merasa marah mainannya diambil. 

4. Terlalu Banyak Konsumsi Gula

Makanan kemasan seperti permen, jus, minuman kemasan, dan coklat batangan umumnya diproses dengan tambahan gula berlebih. 

Asupan gula berlebih dapat meningkatkan kadar gula darah anak lalu turun dengan sangat cepat. Kadar insulin dalam darah yang tidak stabil dapat memicu anak tantrum.

Selain itu, gula adalah karbohidrat, dan sebagian besar makanan yang mengandung karbohidrat dapat menyebabkan kembung karena gas yang membuat perut si Kecil jadi tidak nyaman.

5.Belum Bisa Komunikasi Lancar

Bahasa anak usia 1-3 tahun baru mencapai 75%, sehingga sangat wajar jika ia belum mampu berkomunikasi dengan efektif untuk menyampaikan apa yang ia rasakan.

Jika sudah merasa frustasi, tidak heran jika ia mengekspresikan apa yang dirasakan dengan tangisan histeris. 

6. Menghindari Hal yang Tidak Disukai

Anak usia 1-3 tahun biasanya sudah memiliki apa yang disuka dan tidak.

Ketika anak dipaksa berhadapan dengan hal-hal yang tidak ia suka, ia bisa menunjukkan pemberontakan atau penolakan dengan tantrum.

Contohnya saat Ibu memberi tahu waktu bermain sudah habis dan ia harus pulang ke rumah untuk tidur siang, atau ketika diminta membereskan mainan yang berantakan setelah bermain.

7. Kurang Tidur

Kurang tidur ternyata dapat menjadi penyebab anak tantrum karena merasa kecapekan. 

Kelelahan mempunyai efek buruk pada perilaku anak dengan membuat kelenjar adrenal (yang mengatur respon terhadap stres) bekerja lebih aktif. Alhasil, anak jadi lebih sulit mengendalikan diri.

Jadi ketika si Kecil kecapekan, ia cenderung menunjukkan perilaku yang mengganggu sekitar, seperti tantrum.

8. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku yang membuat anak sulit fokus dan konsentrasi.

Beberapa gejala ADHD yang paling umum terlihat di antaranya adalah anak menjadi hiperaktif, impulsif, dan kurangnya perhatian.