Puting Beliung Rusak 12 Rumah di HST, Romansyah Bertahan di Dalam Rumah

Di tengah situasi tersebut, istrinya sempat mengajak keluar rumah. Namun Romansyah memilih bertahan karena khawatir kondisi di luar justru lebih berbahaya.

“Pas itu mamanya anak-anak hendak keluar. Saya bilang jangan dulu, di rumah saja dulu,” katanya.

Beberapa saat kemudian, kondisi semakin mengkhawatirkan. Seng di bagian atap mulai terangkat satu per satu diterpa angin yang datang bersama hujan deras.

Romansyah mengaku keluarganya tidak sempat lagi memikirkan barang-barang yang ada di dalam rumah. Mereka hanya berkumpul dan menunggu angin berlalu.

“Tahu-tahu seng sudah terbang. Kami di dalam rumah sudah tidak bisa apa-apa lagi. Jadi pasrah saja,” tuturnya.

Sambil menunjuk ke arah seberang jalan dari depan rumahnya, Romansyah mengatakan beberapa lembar seng atap rumahnya terlempar hingga ke lokasi tersebut saat angin puting beliung menerjang.

Di tengah kondisi itu, ia hanya bisa bertahan di dalam rumah bersama keluarganya. Keselamatan istri dan ketiga anaknya menjadi hal yang paling dipikirkannya saat itu.

Menurut Romansyah, angin kencang yang disertai hujan deras itu berlangsung sekitar 30 menit. Setelah kondisi mulai mereda, warga berangsur keluar rumah untuk melihat keadaan sekitar.

Saat itulah Romansyah melihat kerusakan yang terjadi di rumahnya. Sebagian atap rusak dan air hujan yang masuk membuat sejumlah barang di dalam rumah menjadi basah.

“Barang-barang tahambur, basah semua. Kasur juga basah, buku-buku sekolah anak basah juga,” ujarnya.