“Tahu-tahu seng sudah terbang. Kami di dalam rumah sudah tidak bisa apa-apa lagi. Jadi pasrah saja,” tuturnya.
Sambil menunjuk ke arah seberang jalan dari depan rumahnya, Romansyah mengatakan beberapa lembar seng atap rumahnya terlempar hingga ke lokasi tersebut saat angin puting beliung menerjang.
Di tengah kondisi itu, ia hanya bisa bertahan di dalam rumah bersama keluarganya. Keselamatan istri dan ketiga anaknya menjadi hal yang paling dipikirkannya saat itu.
Menurut Romansyah, angin kencang yang disertai hujan deras itu berlangsung sekitar 30 menit. Setelah kondisi mulai mereda, warga berangsur keluar rumah untuk melihat keadaan sekitar.
Saat itulah Romansyah melihat kerusakan yang terjadi di rumahnya. Sebagian atap rusak dan air hujan yang masuk membuat sejumlah barang di dalam rumah menjadi basah.
“Barang-barang tahambur, basah semua. Kasur juga basah, buku-buku sekolah anak basah juga,” ujarnya.
Romansyah mengaku baru pertama kali mengalami rumahnya diterjang angin puting beliung hingga menyebabkan sebagian atap terangkat dan rusak.
“Alhamdulillah kami tidak apa-apa,” katanya.
Tak lama setelah kejadian, warga sekitar dan relawan berdatangan membantu para korban. Mereka bergotong royong memasang terpal pada bagian atap yang rusak agar rumah tidak kembali kemasukan air saat hujan turun.
Bantuan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bupati HST Samsul Rizal menyerahkan bantuan berupa uang tunai dan paket bantuan kepada warga terdampak puting beliung.
Romansyah yang sehari-hari berjualan sayur mengaku berterima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati HST Samsul Rizal yang sudah memberikan bantuan kepada kami yang terkena musibah angin puting beliung. Terima kasih banyak,” ujarnya.
Kini, sebagian atap rumahnya masih ditutupi terpal sambil menunggu perbaikan.
“Mudahan tidak ada lagi kejadian seperti ini,” harapnya. (wartabanjar.com/Adew)
Editor Restu







