Di seluruh Indonesia, dalam setiap institusi, dalam setiap komunitas, gesekan ini terjadi. Bagi anak muda di luar sana yang telah berupaya melakukan perubahan, ketahuilah ini, kalian tidak sendirian. Dan walaupun jalan hidup kalian sering terasa penuh dengan tantangan, sadarilah bahwa perasaan itu dialami oleh setiap penggerak perubahan dalam sejarah negara kita. Keresahan adalah cikal bakal dari perubahan. Yakini itu.

Yang Mulia, seluruh hidup saya, saya frustrasi dengan persepsi negara kita yang terus diremehkan dunia luar. 16 tahun saya hidup di luar negeri, jarang sekali orang mengenal Indonesia. Saya kembali ke tanah air untuk berkarya karena saya percaya kepada potensi bangsa kita, dan saya ingin kita dihormati dunia. Saya mendirikan Gojek bukan untuk menciptakan unicorn, tetapi karena saya melihat potensi para ojek yang selalu diremehkan orang lain. Saat itu, banyak orang melihat ojek sebagai sumber permasalahan di jalanan, tetapi saya melihat ojek sebagai sumber daya manusia terpenting untuk ekonomi kita.

Di awal perjalanan Gojek, saya pun ditertawakan, “Sudah jauh-jauh sekolah di Harvard, malah buat bisnis ojek.” Bertahun-tahun, tidak ada yang mau investasi, tidak ada yang percaya potensi ojek. Tapi saya tahu, karena saya sehari-hari bersama mereka, bahwa para ojek punya potensi besar. Mereka bisa profesional, mereka bisa dipercaya, mereka bisa melakukan berbagai fungsi kompleks.

Saya tidak melihat ojek sebagai driver, saya melihat ojek sebagai MANUSIA, yang kalau diberikan kesempatan, kalau diberikan dukungan teknologi, bisa menjadi pilar ekonomi Indonesia. Dan ternyata benar. Jutaan UMKM dan puluhan juta masyarakat di seluruh Indonesia sekarang bergantung kepada para ojol. Melihat ojol dimanusiakan, dihormati, bahkan disapa oleh pemimpin bangsa. Ini adalah kebahagiaan terbesar saya. Inilah yang menjadi misi hidup saya, menyadarkan setiap orang terhadap potensi di dalam dirinya.