Kisah Persahabatan Buaya dan Manusia: dari Telur Misterius, Disuapi Ikan Teri hingga Tangis Histeris
WARTABANJAR.COM, BANDAR LAMPUNG - Tangis histeris Wike Saputri (40) tak terbendung ketika Coki dibawa pergi. Perempuan itu pun sempat pingsan.
Ia terlihat tidak rela Coki diikat dan digotong beberapa orang berseragam.
Suara tangis terus terisak hingga Coki dibawa pergi menggunakan mobil bersama orang-orang tersebut.
Coki bukan anak Wike Saputri. Bukan pula manusia.
Ia adalah seekor buaya muara betina yang telah sekira tiga tahun dipelihara Wike dan keluarga di rumahnya, Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, Lampung.
Kisah Coki bermula pada 2023. Saat itu, suami Wike menemukan sebuah telur ketika sedang membersihkan tumpahan minyak di kawasan Pelabuhan Petikemas.
Tidak ada yang menyangka telur tersebut merupakan telur buaya. Telur itu kemudian dibawa pulang.
Wike bersama suaminya mencoba menetaskannya sendiri dengan cara sederhana.
Mereka menggunakan metode lampu merah berdasarkan pengetahuan yang dipelajari secara otodidak.
Sekitar dua bulan kemudian, telur tersebut pecah. Seekor bayi buaya muncul pada 11 September 2023.
Sejak saat itulah Coki menjadi bagian dari keluarga Wike. Ia diberi makan ikan teri nasi.
Bahkan, Wike harus menggunakan pinset untuk menyuapkan makanan kepada bayi buaya tersebut.
Baca Juga: Kejanggalan Meninggalnya Wakil Rektor IT&B Masih Misterius, Sosok Asprina Ahli Sistem Informasi
Baca Juga: Kronologi Diduga Kawat Tertinggal dalam Jantung Pasien di Samarinda Kaltim, Kemenkes Turun Tangan
Hari berganti bulan. Bayi buaya itu terus tumbuh.
Makanannya bertambah dan tubuhnya semakin besar. Coki kemudian mencapai panjang sekitar 2,5 meter dengan berat kurang lebih 50 kilogram.
Tempat tinggalnya di rumah Wike pun ikut berubah.
Coki pernah ditempatkan di kamar mandi. Ketika tubuhnya semakin besar, ia kemudian dipindahkan ke teras depan rumah.
Keluarga Wike memasang pagar pengaman dan kamera CCTV untuk memantau keberadaannya.
Menurut Wike, selama hampir tiga tahun tinggal bersama mereka, Coki tidak pernah lepas maupun menunjukkan perilaku agresif.
Keberadaannya pun diketahui aparat lingkungan setempat, termasuk Ketua RT, Babinsa hingga Bhabinkamtibmas.