WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Nama Veina Skincare kini dikenal luas sebagai salah satu UMKM brand lokal yang sukses menembus kategori Mall Seller di TikTok Shop. Di balik pencapaian tersebut, pemiliknya, Elin Okta Cristian, merupakan perempuan Dayak Maanyan asal pedalaman Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Anak seorang petani ini berhasil mengangkat produk perawatan kulit berbasis resep leluhur suku Dayak hingga menembus pasar nasional dan internasional. Veina, sapaan akrabnya, kini berdomisili di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Ia mulai memproduksi skincare secara mandiri pada 2023. Produk andalannya diberi nama Kasai Dayak, terinspirasi dari ramuan tradisional yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga Dayak Maanyan.

Awalnya, Veina sempat memproduksi body lotion dengan sistem maklon bersama perusahaan besar. Namun, maraknya produk lotion viral yang memicu iritasi membuat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk sejenis menurun.

“Melihat kondisi itu, saya pulang ke kampung di Barito Timur. Dari obrolan keluarga, muncul ide untuk mengangkat kembali resep alami leluhur Dayak Maanyan,” ujar Veina, Kamis (12/2/2026).

Kasai Dayak berbentuk butiran kecil berwarna kekuningan. Cara pemakaiannya cukup sederhana, yakni dua butir dicampur air secukupnya, lalu dioleskan merata ke wajah seperti bedak dingin.

Bahan dasarnya berasal dari alam, seperti beras, temu lawak (ubi jaluha), serta berbagai rempah dan herbal lokal. Proses pembuatannya masih mempertahankan metode tradisional, mulai dari perendaman beras semalaman, penggilingan menjadi tepung, penggunaan rempah segar, hingga proses pencampuran dan pengeringan adonan.

Dalam satu kemasan, produk ini dijual seharga Rp60.000 dengan margin keuntungan sekitar 30 persen. Berkat pemasaran digital melalui TikTok, penjualan Kasai Dayak melejit hingga mencapai 300 toples per hari.

“Dalam setahun, omzet bisa mencapai Rp3,5 miliar,” ungkap Veina.

Keberhasilan tersebut mengantarkan Veina Skincare masuk kategori Mall Seller di TikTok Shop. Saat ini, usahanya telah mempekerjakan sekitar 25 karyawan.

“Dalam perekrutan, kami mengutamakan warga kurang mampu, anak putus sekolah, dan para janda agar mereka memiliki penghasilan tetap,” katanya.