WARTABANJAR.COM – Jagat media sosial diguncang oleh sebuah video viral yang memperlihatkan seorang pria diduga dipukuli warga hanya karena mencabut satu pohon singkong. Peristiwa ini memicu kemarahan publik setelah terungkap bahwa pria tersebut mengambil singkong untuk memenuhi kebutuhan lima anak yatim yang diasuhnya. Insiden yang diunggah ke Instagram dan menyebar ke berbagai platform seperti X (Twitter), mengundang simpati dan amarah warganet. Dalam narasi video, disebutkan bahwa pria tersebut nekat mencabut singkong karena desakan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap anak-anak yatim yang hidup bersamanya. Namun, bukannya mendapat empati, pria itu justru dituntut ganti rugi oleh pemilik lahan singkong sebesar 10 kwintal—jumlah yang dinilai sangat tidak wajar, mengingat ia hanya mencabut satu pohon. Lebih ironis lagi, ia diduga mengalami kekerasan fisik dari sekelompok warga yang marah. BACA JUGA:GILA DAMKAR DIKERJAI! Laporan Ada Ular Ternyata Modus Debt Collector Tagih Utang Pinjol Netizen Murka: “Singkong Dipukul, Koruptor Dibiarkan!” Ribuan komentar membanjiri media sosial, mengutuk keras tindakan main hakim sendiri oleh warga. Banyak netizen menyuarakan ketidakadilan sosial dan kurangnya empati terhadap rakyat kecil. Berikut sebagian reaksi warganet: “Ya Allah, dia ambil singkong buat anak yatim, bukan buat dijual! Kenapa harus dipukuli?” “Yg ngambil duit rakyat aman-aman aja, giliran ambil singkong dihajar rame-rame. Miris.” “Spil yang punya kebon singkong! Biar kita hujat rame-rame!” “Singkong satu pohon dihitung 10 kwintal? Ini hukum dagang dari planet mana?” “Negara harus turun tangan. Ini bukan sekadar kasus pencurian, ini cermin kegagalan sosial.” Belum Ada Tindakan dari Aparat Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari aparat kepolisian maupun pemerintah desa setempat. Warganet mendesak agar kasus dugaan penganiayaan ini diusut tuntas, dan pihak yang memukul korban dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Kasus ini bukan semata soal mencabut singkong. Ini soal empati, keadilan, dan cara masyarakat menyikapi kemiskinan. Ketika seseorang harus melanggar aturan demi memberi makan anak-anak yatim, yang perlu dicari bukan hanya siapa yang salah—tapi mengapa kondisi itu terjadi.(Wartabanjar.com/pstore.cilegon/berbagai sumber) editor: nur muhammad