Permintaan Maaf Anggota SAR Rinjani kepada Keluarga Korban Usai Gagal Selamatkan Juliana Viral di Medsos
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM – Suasana haru menyelimuti media sosial setelah beredar video permintaan maaf seorang anggota tim SAR bernama Abdul Haris Agam alias Agam Rinjani, yang mengevakuasi jenazah wisatawan asal Brasil, Juliana Marins. Wanita itu tewas tragis saat mendaki Gunung Rinjani.
Agam adalah salah satu relawan yang turun langsung ke jurang curam sedalam 600 meter, tempat ditemukannya tubuh Juliana. Dalam video siaran langsung di Instagram, ia menyampaikan permintaan maaf kepada seorang perempuan yang diduga keluarga korban.
“Saya minta maaf karena tidak bisa membawa Juliana pulang dengan selamat. Medan terlalu berat dan lokasi terlalu jauh di bawah,” ucap Agam dengan suara berat.
Video menyentuh itu pun viral, memicu beragam reaksi netizen yang tersentuh dengan perjuangan tim SAR dan pilu atas nasib tragis Juliana.
BACA JUGA:HEBOH! LUNA MAYA Kesurupan di Lokasi Syuting Film “Jalan Pulang”, Netizen: “Gimik Biar Laku?”
Pemandu Bantah Meninggalkan Juliana
Sementara itu, Musthofa—pemandu wisata yang mendampingi Juliana saat pendakian—membantah tudingan bahwa ia meninggalkan korban. Pria yang telah dua tahun menjadi pemandu di Rinjani ini menjelaskan bahwa ia sempat menyarankan Juliana untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Ia mengaku berjalan tiga menit lebih dulu bersama lima pendaki lain, dengan asumsi Juliana akan segera menyusul.
“Saya tidak meninggalkannya. Saya hanya berjalan sebentar dan menunggu. Setelah hampir 30 menit dia tak muncul, saya kembali dan tak menemukannya,” kata Musthofa, dikutip dari laman Oglobo.globo, Minggu (27/6/2025).
Reaksi Netizen: Duka, Doa, dan Harapan
Video permintaan maaf dan kisah Musthofa memancing gelombang empati netizen. Banyak yang menangis, merasa kehilangan, dan mendoakan tim SAR yang telah berjuang di tengah keterbatasan.
“Terima kasih tim SAR. Semoga keluarga almarhumah diberi ketabahan.”
“Jangan salahkan tim SAR. Mereka sudah melakukan yang terbaik dengan alat seadanya.”
Namun, tak sedikit pula yang melayangkan kritik, mempertanyakan durasi 30 menit hingga pemandu menyadari Juliana hilang.
“30 menit baru sadar hilang? Kalau bukan ditinggal, terus apa namanya?”
Di tengah pro-kontra, muncul pula harapan agar tim SAR Indonesia ke depan dilengkapi teknologi canggih seperti drone, agar dapat memberikan bantuan cepat jika kejadian serupa terulang.
“Semoga tim SAR kita bisa punya drone untuk suplai makanan, minuman, atau selimut kalau korban masih hidup. Kasihan keluarga korban.”
Netizen lainnya mencoba menenangkan suasana:
“Sudahlah, jangan saling menyalahkan. Evakuasi di alam bebas itu bukan perkara mudah. Hargai perjuangan mereka.”
“Ini Gunung Rinjani, bukan gunung main-main. Tim SAR kita bukan kaleng-kaleng.”
Kisah ini bukan hanya tentang kehilangan seorang pendaki, tetapi juga tentang batas manusia dalam menghadapi kerasnya alam. Tentang mereka yang bertaruh nyawa mengevakuasi sesama, dan tentang kita semua yang seharusnya lebih bijak dalam memberi penilaian.
Semoga duka ini menjadi pelajaran dan momentum pembenahan—baik dalam perlengkapan, prosedur, maupun edukasi kepada para pendaki tentang risiko yang mereka hadapi.(Wartabanjar.com/mood.jakarta/berbagai sumber)
editor: nur muhammad