Sekitar tahun 1862, terjadi pertempuran di Hutan Simpur, 750 meter dari masjid, yang melibatkan pasukan Demang Lehman untuk membentengi Pangeran Hidayat.
Ada cerita yang berkembang, bahwa setiap tentara Belanda yang berani mendekat ke masjid ini mengalami muntah darah secara misterius.
“Masjid ini memang disakralkan sejak dulu. Bukan cuma tempat ibadah, tetapi juga basis perjuangan. Orang menyebutnya ‘keramat’ karena kisah-kisah luar biasa itu,” jelas Mahrani.
Pada 1972, masjid ini mengalami pemugaran besar tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Pemerintah melalui Direktorat Kepurbakalaan juga pernah memberikan perhatian khusus, menjadikannya sebagai situs warisan budaya lokal yang harus dijaga.
Tak hanya menjadi pusat ibadah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan musyawarah masyarakat.
Sejak sebelum kemerdekaan, dari kawasan ini lahir madrasah dan pesantren, seperti Madrasah Telaga Kangkung dan Madrasah Al-Fidaa.
Kegiatan keagamaan di Masjid Keramat Palajau terus berlanjut hingga kini, misalnya setiap harinya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan setiap minggunya digelar pengajian umum.
Masjid ini juga menjadi pusat tradisi batumbang apam, ritual syukuran yang dilakukan warga untuk bayi yang baru lahir.
BACA JUGA: Bawa 2 Paket Sabu, Pria di Tanah Bumbu Diciduk Tengah Malam
Anak-anak yang belum menginjak tanah, pertama kali menapakkan kaki di Masjid Keramat sebagai bentuk permohonan doa dan perlindungan dari Allah SWT.
“Warga yang melaksanakan batumbang apam ingin mengambil hikmah dan berkah. Itu wujud rasa syukur kepada Allah untuk anak-anak mereka,” ujar Mahrani.
Kini, Masjid Keramat Palajau bukan sekadar tempat ibadah.
Ia menjadi penanda sejarah peradaban Islam di Hulu Sungai Tengah yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu.
Setiap lebaran, masyarakat dari berbagai daerah datang berziarah, mengenang nilai-nilai spiritual dan perjuangan yang hidup di dalamnya.
“Semoga masjid ini terus dijaga dan dirawat oleh generasi muda, karena inilah bukti bahwa Islam dan perjuangan rakyat Banjar telah hidup sejak dulu di tanah Pelajau,” tutur Mahrani menutup perbincangan. (Adew)
Editor: Yayu







