WARTABANJAR.COM, BLITAR – Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Blitar, Jawa Timur, Rabu (18/6/2025), mendadak ricuh setelah sejumlah mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) membentangkan poster berisi kritik terhadap janji kampanye Gibran. Aksi damai itu berujung tindakan represif dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang langsung mencegat dan memiting para mahasiswa. Poster yang mereka bawa bertuliskan sindiran tajam terhadap janji Gibran soal penciptaan 19 juta lapangan kerja, di antaranya: “Dinasti Tiada Henti” “Omon-omon 19 Juta Lapangan Kerja?” “Semangat Terus Bikin Bualan, Mas Wapres Gibran” “Konstitusi?!!” Aksi kritik tersebut sontak mendapat reaksi keras dari aparat pengamanan. Beberapa mahasiswa ditangkap di tempat, meski kemudian dibebaskan. BACA JUGA:CEMBURU BUTA! Seleb TikTok Pontianak dan Temannya Telanjangi Wanita lalu Sebar Videonya PDIP Bereaksi: Demokrasi Terancam! Politikus PDIP, Mohamad Guntur Romli, mengecam tindakan Paspampres yang dinilai brutal dan tidak proporsional. “Tindakan itu berlebihan dan berbasis kekerasan. Ini ancaman serius bagi demokrasi dan kebebasan berpendapat,” tegasnya. “Andai mahasiswa itu memuji kampanye Gibran, tentu tidak akan dipiting,” sindirnya lagi. Polisi Berkilah Demi Keamanan Kapolres Blitar Kota menjelaskan, tindakan itu diambil demi keamanan jalur rombongan Wapres. Menurutnya, mahasiswa hanya diamankan sementara lalu dilepas setelah situasi kondusif. Namun, klarifikasi itu tidak meredakan kemarahan publik. Netizen Murka: “Tagih Janji Kok Dipiting!” Aksi Paspampres menuai kritik pedas dari warganet. Berikut beberapa komentar yang viral: “Utang janji ditagih, malah marah. Mirip yang pinjam di bank emok 😂” “Sudah diklarifikasi, katanya diajak makan siang. Tapi kok sampai dipiting?” “Janji adalah utang, utang wajib dibayar, bukan dibungkam.” “Demokrasi sudah mati.” “Kalau rakyat terus ditekan, jangan salahkan kalau reformasi terulang.” “Dibayar rakyat, tapi malah menyakiti rakyat.” Kritik Tak Boleh Dibungkam Insiden ini menjadi catatan serius bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, tapi juga soal ruang bebas menyuarakan pendapat. Kritik mahasiswa bukan ancaman, melainkan pengingat akan janji yang belum ditepati.(Wartabanjar.com/youtube/suara.com/rmol.id/duniahariini17/berbagai sumber) editor: nur muhammad