Selama dua malam, yang ada di pikirannya hanya bertahan hidup demi ibu, ayah, dan dua adiknya yang masih kecil. Ia bertahan hidup di tengah belantara hutan, dan merasa kedinginan karena wilayah di Gunung Slamet kerap turun hujan.

"Untuk makan dari yang bekal yang dibawa masih bisa saya makan, bawa roti dan memang harus diirit-irit ya, karena kan tidak tahu kita berapa lama ada di sana. Jadi memang harus bisa bagaimanapun caranya".

"Untuk minum kalau kita turun ke bawah ada sumber mata air, jadi kita bisa minum dari situ. Bermalam dua malam di sana, sendirian,” katanya.

Dia mengaku tidak takut dengan kondisi di sana. “Takut sih tidak, cuma lebih ke kedinginan, bagaimana caranya biar hangat. Saya sudah tidak peduli sama setan-setan. Itu sudah tidak memikrikan seperti itu, yang penting saya tetap hangat, karena ada badai dan hujan. Saya tidak boleh hilang, harus ketemu," imbuh dia.

Di tengah hutan, Naomi sempat dihampiri seekor burung kecil. Burung itu seolah hendak menunjukkan jalan, akhirnya ia mengikuti burung tersebut untuk turun ke bawah. Di pertengahan jalan, akhirnya ia mendengar suara orang pada Selasa (8/10/2024) sekitar pukul 10.00 WIB. Suara itu adalah suara tim penyelamat yang memanggil-manggil namanya.

"Sebenarnya agak ragu dari awal, saya tidak tahu itu burung apa dan baik atau tidak. Akhirnya saya mengikuti dia ke bawah. Lalu saya turun, akhirnya sampai tengah, di bukit saya berhenti, istirahat. Itu burung kecil yang mengarahkan."

"Ada yang panggil panggil saya, saya lega sekali. Bapaknya lihat, saya menangis, lalu saya dikasih makan dan minum. Terus saya turun sampai bawah sekitar pukul 15.00. Saya ketemu ibu, rasanya senang banget," ucapnya.

Naomi mengaku hobi naik gunung sejak tahun ini. Sebelum mendaki Gunung Slamet, ia sudah menaiki Gunung Andong dan Gunung Ungaran.