Sebelum berwudhu, kulit selalu kontak dengan udara di sekitar tubuh yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Keringat, debu, radiasi dan polusi di udara sekitar menambah banyak muatan listrik yang mengenai kulit dan efeknya merugikan tubuh.

Muatan listrik di udara yang merugikan ini dikenal dengan kation.

Lawan dari kation adalah anion yang merupakan muatan listrik berefek baik bagi tubuh.

Secara ilmiah, kandungan elektron pada anion lebih banyak daripada kation.

Ketika proses wudhu dilakukan dengan sempurna, termasuk dengan membasuh kulit anggota wudhu, maka partikel air wudhu yang terkena cahaya dari lingkungan akan memunculkan muatan listrik yang dikenal dengan anion.

Anion inilah yang dapat mengendurkan sistem syaraf, merelaksasi otot, mengurangi rasa sakit, ketegangan, dan kegelisahan.

Karena kulit manusia memiliki suhu yang lebih hangat, maka anion dari basuhan air di kulit akan tersebar ke udara bersama dengan keringnya bekas air wudhu yang menguap.

Apabila anion ini terhirup oleh orang yang berwudhu maupun orang-orang di sekitarnya, maka akan memunculkan kesegaran dan kebugaran.

Oleh karena itu, biasanya orang yang berwudhu mendapatkan sensasi kesegaran fisik dan psikis.

Penelitian Profesor Tomoo Ryushi dari Tokyo Metropolitan University mengungkapkan adanya hubungan antara anion yang berefek baik untuk kebugaran psikologis seseorang.

Dalam kajian yang lebih dalam, kation dan anion yang tidak seimbang akan memunculkan kerusakan pada gen manusia, yaitu kerusakan komponen DNA dan RNA yang dikenal sebagai pembawa sifat (Azhar, Cara Hidup Sehat Islami, 2015 M, Tasdiqiya Publisher, Bandung: halaman 264).

Selain kulit, anggota tubuh yang terkena air basuhan wudhu adalah kuku. Bahkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan wudhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa kuku adalah tempat keluarnya segala dosa dan kesalahan-kesalahan manusia setelah berwudhu.