"Kedua, jumlah test PCR kita di bawah ambang. Memang rata-rata tes kita dilaporkan antara 180-200 ribu per hari. Tapi yang banyak itu tes antigen, sekarang PCR tinggal sekitar 15% saja dari total tes. Rata-rata sekitar 30 ribu/hari. Padahal minimal 39 ribu/hari. Itu minimal. Itu juga dengan syarat merata. Sayangnya, 40-50% dari jumlah PCR itu di Jakarta saja. Sisanya dibagi 33 propinsi lainnya."

Menurutnya Kemenkes harus berusaha meningkatkan kapasitas surveilans genomik dengan sekuensing secara lebih aktif, tidak hanya menunggu adanya indikasi awal karena menyadari keterbatasan kapasitas testing PCR dan sifat gejala yang cenderung ringan tersebut.

"Salah satunya dengan melihat latar belakang perjalanan. Misalnya ada WNI baru pulang dari negara dengan laporan kasus Omicron, menunjukkan gejala walau ringan sekalipun, tetap diprioritaskan sekuensing. Itu usaha kita. Walau itu juga tidak mudah." (aqu)

Editor Restu