Perusahaan itu memang sulit membantahnya, setelah pernyataan Juli 2023 itu. 

Postingan Musk dibuat jauh sebelum gugatan bergulir, sehingga bobot pembuktiannya lebih kuat ketimbang kesaksian di persidangan. 

Bukti pemakaian yang diajukan X juga tipis. Perusahaan itu menyodorkan 12 halaman situs. 

Empat di antaranya sama sekali tidak memuat kata "tweet" maupun logo burung. 

Dari delapan halaman sisanya, cuma tiga yang bertanggal. Yang paling lama dibuat pada 2012, yang paling baru berupa postingan blog Maret 2023. 

Connolly menyebut, halaman-halaman itu sekadar sisa pemakaian lama. 

Kesaksian direktur hukum X, Naser Baseer, juga tidak banyak menolong. 

Ditanya bagaimana perusahaan software mengirim update ke pengguna, ia menjawab tidak tahu apa itu push update. 

Baseer turut mengakui, X belum pernah sekali pun melisensikan merek Twitter ke pihak lain.

X tetap memegang nama Twitter, karena satu kalimat pembuka di halaman aplikasinya di App Store: "Welcome to X (formerly known as Twitter), your trusted digital town square." 

Baseer bersaksi, kalimat dalam kurung itu sengaja dipertahankan. Tujuannya supaya orang yang mencari Twitter tetap menemukan aplikasi X, sekaligus paham keduanya adalah platform yang sama. 

Hakim menerima pengakuan itu apa adanya. Menurut dia, X masih menikmati nama yang melekat pada merek Twitter. 

Hakim justru sengaja tidak menilai apakah pengalihan alamat twitter.com ke x.com ikut terhitung sebagai pemakaian merek, karena hal itu sudah tidak diperlukan.

Putusan ini belum final. Hakim berkali-kali meminta pengajuan percepatan sidang, tetapi X dan Operation Bluebird justru sepakat meminta sidang digelar pada November 2027.

Sambil menunggu, Tweet.app sudah dibuka untuk publik. Lebih dari 172.000 orang mendaftar memesan nama akun sebelum peluncuran, dengan biaya akses awal 20 dollar AS (sekitar Rp 360.000) per orang.

Uang itu diperkirakan dipakai menutup ongkos perkara. Halaman depan Tweet.app terang-terangan menyindir Musk.