WARTABANJAR.COM - Melalui mekanisme AHWA (Ahlul Halli wal ‘Aqdi), Muktamar ke -35 Nahdlatul Ulama memilih kembali KH Miftachul Akhyar (73) sebagai Rais Aam PBNU.

Rais Aam adalah ketua Dewan Syuriah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul) yang merupakan lembaga tertinggi dalam struktur Nahdlatul Ulama (NU).

Di bawah Dewan Syuriah terdapat Dewan Tanfidziah yang dipimpin oleh seorang ketua umum.

Pada Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jatim, ketua umum PBNU juga akan dipilih melalui mekanisme AHWA.

AHWA ini beranggotakan 9 ulama besar yang dimiliki NU.

"Memutuskan, KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031," ucap anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, Senin (31/8/2026) dinihari.

KH Miftachul Akhyar adalah pemimpin ponpes Miftachus Sunnah Surabaya. 

Pria kelahiran 1953 ini merupakan putra ke-9 dari 13 anak pengasuh ponpes Tahsinul Akhlaq Rangkah, KH Abdul Ghoni. 

Ia sudah lama aktif di organisasi NU, sejak dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya periode 2000-2005.

Kemudian, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur periode 2007-2013 dan 2013-2018, Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020, Pj Rais Aam PBNU 2018-2020.

Sempat menjadi ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia), KH Miftachul Akhyar kemudian memilih menjadi Rais Aam PBNU. 

Baca Juga: 500 Nadhliyin Tinggalkan Kalsel, "Serbu" Jombang Ikuti Muktamar Ke-35 NU

Baca Juga: Tumbang Nusa Kalteng Memanas, Api Karhutla Kepung Jalur Banjarmasin-Palangka Raya

Sosok 9 Ulama AHWA

Siapa saja ulama yang menjadi anggota AHWA PBNU?

AHWA beranggotakan sembilan ulama besar yang dihormati para nahdliyin karena keilmuan, pengetahuan dan keteladannya.

Mereka dipilih dalam sidang pleno Muktamar Ke-35 NU, yakni: 

1. KH Nurul Huda Djazuli: pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso, Kediri, Jatim.

Dalam pemilihan AHWA, memperoleh 485 suara.

2. KH. Nuruzzahri Yahya atau Waled NU: ulama Aceh yang dikenal melalui dakwah, pendidikan, serta kiprahnya dalam kehidupan sosial dan organisasi.

Waled NU didukung 477 suara dalam pemilhan AHWA.