Pria di China Ditemukan Keluarganya Lagi Setelah 25 Tahun Berkat AI
WARTABANJAR.COM - Xie Qingshuai selama hampir 25 tahun menjadi objek pencarian keluarganya. Mereka tidak tahu di mana anak mereka berada, setelah Xie diculik pada Januari 1999, ketika masih bayi.
Saat itu, ia ditinggal sendirian di rumahnya yang berada di Kota Xingtai, Provinsi Hebei, China, ketika ibunya pergi berbelanja.
Sejak saat itu, keluarganya tidak pernah berhenti mencari. Pencarian yang awalnya dilakukan di sekitar Xingtai, meluas ke provinsi-provinsi tetangga dan berbagai wilayah di China.
Pada 2022, keluarga Xie bahkan menawarkan hadiah 200.000 yuan (sekitar Rp528 juta) hingga 1 juta yuan (Rp2 miliar) bagi siapapun yang bisa menemukan anak mereka.
Namun sayangnya, Xie tetap tidak ditemukan. Selang 25 tahun kemudian, keluarga Xie akhirnya mendapatkan titik terang.
Namun, bukan dari seseorang yang mengenali wajah Xie, melainkan dari sebuah sistem kecerdasan buatan (AI).
Pada 27 November 2023, polisi di Hebei menggunakan sistem perangkat lunak pengenalan wajah (face recognition) yang dikembangkan perusahaan AI asal Beijing, Deepglint.
Pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil. Polisi berhasil menemukan Xie Qingshuai yang saat itu telah berusia 25 tahun.
Baca Juga: Menonton Video Pendek Ternyata Bisa Membuat Otak Menjadi Kurang Aktif
Baca Juga: Tak Bisa Melihat, Pemuda Ini Bikin Aplikasi Berdasar AI yang Bisa Ceritakan Dunia di Sekitarnya
Selama ini Xie tinggal di Kota Chengdu, China barat daya. Ia bekerja di bidang renovasi interior, dan tumbuh tanpa mengetahui bahwa keluarga kandungnya masih mencarinya.
Setelah identitasnya diketahui benar, ia kemudian dibawa kembali ke Xingtai untuk bertemu dengan keluarganya.
"Saya telah menunggu hari ini selama 25 tahun," kata Xie Kefeng, ayah kandung Xie Qingshuai kepada media lokal.
Kefeng akhirnya bisa benar-benar memeluk putra kandungnya, setelah hampir seperempat abad terpisah.
Untuk menemukan Xie, Deepglint menggunakan teknologi cross-age face comparison atau teknologi perbandingan wajah lintas usia.
Teknologi ini dirancang untuk mencari kemiripan fitur wajah antaranggota keluarga, dengan mempertimbangkan hubungan genetik.