Pria di China Ditemukan Keluarganya Lagi Setelah 25 Tahun Berkat AI
Dengan begitu, sistem tetap dapat membantu mencari orang yang hilang, meskipun penampilannya sudah berubah seiring bertambahnya usia.
Dalam kasus Xie, polisi menggunakan foto kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya sebagai bahan perbandingan.
Dari sana, AI menempatkan Xie di antara lima kandidat teratas yang dinilai paling mungkin cocok.
Setelah kandidat ditemukan, polisi melakukan tes DNA untuk memastikan identitas masing-masing.
Hasilnya pun menunjukkan, pria itu memang Xie Qingshuai, anak yang hilang selama 25 tahun.
Deepglint, perusahaan AI yang teknologinya dipakai untuk menemukan Xie, mengatakan dia merupakan orang keempat yang berhasil ditemukan polisi, dengan bantuan teknologi mereka dalam enam bulan terakhir.
Penggunaan teknologi pengenalan wajah menggunakan sistem AI untuk membantu pencarian orang hilang, kini sudah berkembang dan diterapkan di China dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2017, perusahaan teknologi Baidu bekerja sama dengan platform pencarian keluarga "Baby Come Home", untuk mengembangkan sistem perbandingan wajah lintas usia.
Setahun kemudian, jaringan pencarian dan penyelamatan nasional di bawah Kementerian Urusan Sipil China, bekerja sama dengan Baidu, untuk menghadirkan fitur perbandingan wajah.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengunggah foto anggota keluarga yang hilang untuk mencari kemungkinan kecocokan wajah.
Sebagaimana dihimpun Kompas.com dari SixthTone, perusahaan teknologi Tencent, melalui YouTu Lab juga mengembangkan teknologi serupa untuk membantu polisi mencari orang hilang.
Hasilnya, menurut laporan China Daily, polisi di Provinsi Fujian tercatat berhasil menemukan lebih dari 500 orang hilang, hanya dalam waktu enam bulan setelah menerapkan sistem pengenalan wajah yang dikembangkan YouTu Lab. (Wartabanjar.com)