Ia berasal dari keluarga sederhana. Ensiklopedia resmi Kementerian Kebudayaan mencatat bahwa Dewi merupakan anak ketiga dari keluarga pekerja konstruksi di Tokyo. 

Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus mengenal dunia kerja sejak usia muda.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada 1955, Naoko menekuni dunia seni dan hiburan.

Ia mempelajari seni tari klasik Jepang, bernyanyi, drama, serta bahasa Inggris.

Perjalanan dari keluarga sederhana menuju dunia hiburan Tokyo inilah yang kemudian mempertemukannya dengan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Tahun 1959 menjadi titik balik kehidupan Naoko.

Ketika Soekarno melakukan kunjungan ke Jepang, Naoko yang ketika itu berusia 19 tahun berkenalan dengan presiden  pertama Indonesia tersebut. Beberapa bulan kemudian, Naoko datang ke Jakarta atas undangan Soekarno.

Hubungan keduanya kemudian berkembang menjadi pernikahan.

Pada 3 Maret 1962, Naoko Nemoto menikah dengan Soekarno. Ia memeluk Islam dan mendapatkan nama Indonesia Ratna Sari Dewi Soekarno. 

Dari pernikahan tersebut lahir seorang putri, Karina Kartika Sari Dewi Soekarno, di Tokyo pada 11 Maret 1967.

Nama Ratna Sari Dewi kemudian semakin lekat dengan kehidupan Istana dan perjalanan politik Indonesia pada masa Soekarno.

Dewi tidak hanya dikenal karena statusnya sebagai istri Soekarno.

Pada era 1960-an, ia ikut memainkan peran dalam hubungan Indonesia-Jepang. 

Penampilannya yang modern dan kemampuannya berkomunikasi membuat Dewi kerap mendampingi Soekarno dalam sejumlah pertemuan dengan tokoh dan perwakilan negara asing.

Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan mencatat, pada 1964 Dewi dipercaya menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang. 

Ia juga mendirikan komunitas Nadeshiko yang menghimpun perempuan Jepang yang menikah dengan pria Indonesia.

Sejumlah literatur juga mencatat perannya dalam melobi pihak Jepang sehingga koleksi seni Bung Karno dapat diterbitkan di Jepang.

Dengan demikian, posisi Dewi pada masa itu bukan hanya berada dalam ruang domestik Istana. 

Ia juga menjadi salah satu figur yang bersentuhan dengan diplomasi sosial dan hubungan Indonesia-Jepang.

Perubahan politik Indonesia pada pertengahan 1960-an turut mengubah kehidupan keluarga Soekarno.