WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Maraknya kasus begal payudara di Kabupaten Banjar tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai faktor yang mendorong seseorang melakukan pelecehan tersebut.

Ada sejumlah faktor psikologis maupun lingkungan yang dapat memengaruhi seseorang melakukan perilaku menyimpang tersebut.

Dosen Program Studi Psikologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr Emma Yuniarrahmah mengatakan perilaku begal payudara tidak serta-merta menunjukkan pelakunya mengalami gangguan mental.

“Dalam ilmu psikologi perilaku ada dua kemungkinan seseorang berperilaku seperti itu, bisa karena faktor risiko, misalnya trauma, pengelolaan emosi yang buruk, distorsi kognitif, atau pengaruh lingkungan dan norma,” ujarnya saat diminta tanggapan oleh Wartabanjar.com, Jumat (14/8/2026). 

Baca juga: Begal Payudara di Kabupaten Banjar, Polisi Ungkap Kronologi Pelaku Beraksi di 7 Lokasi

Baca juga: Begal Payudara di Kabupaten Banjar Ngaku Penasaran, Satu Ditangkap Satu Lagi Diburu

Emma menyebut, pengaruh lingkungan juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang perilaku pelecehan, misalnya paparan pornografi yang keliru. 

”Atau pengaruh teman yang menormalisasi ayo kita isengin cewek, tidak ada konsekuensi tentang akibat dari perilaku, dan lainnya,” jelasnya.

Hal tersebut, ucap Emma, dapat membuat seseorang menganggap tindakan yang sebenarnya salah sebagai sesuatu yang biasa.

Sementara dari sisi psikologis, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah distorsi kognitif, yaitu pemikiran yang membenarkan perilaku yang salah secara norma dan menyalahkan orang lain. 

“Bisa disebut gangguan mental apabila misalnya pelaku mengalami penyimpangan ekstrem dari fungsi psikologis normal,” ungkapnya.

Cara berpikir semacam itu, lanjut Emma, dapat membuat pelaku membenarkan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.

Ia mencontohkan pemikiran seperti menganggap menyentuh tubuh perempuan hanya sebagai candaan atau menyalahkan pakaian korban sebagai alasan melakukan pelecehan.

“Misalnya, cuma pegang sedikit, tidak merugikan orang lain atau dia sih pakai baju seksi jadi mengundang untuk dipegang,” ungkapnya.

Menurut Emma, perilaku begal payudara tetap tidak bisa langsung disimpulkan sebagai gangguan mental tanpa pemeriksaan lebih lanjut.