Meta Dituding Lakukan PHK Ribuan Karyawan Pakai Seleksi AI
Dalam gugatan tersebut, para mantan karyawan menuding Meta melanggar sejumlah undang-undang negara bagian dan federal di Amerika Serikat, termasuk Family and Medical Leave Act, Americans with Disabilities Act, Pregnancy Discrimination Act, serta Pregnant Workers Fairness Act.
Aturan-aturan tersebut melarang diskriminasi maupun tindakan balasan terhadap pekerja yang mengambil cuti medis, memiliki disabilitas, atau sedang hamil.
Selain itu, mereka menilai Meta tidak menguji sistem AI yang digunakan untuk memastikan tidak ada bias.
Menurut para penggugat, hal tersebut melanggar regulasi baru yang telah diberlakukan di California dan New York City.
Para penggugat berasal dari enam negara bagian di Amerika Serikat, termasuk California dan New York, serta Washington DC.
Mereka meminta pengadilan mengeluarkan putusan sementara untuk menghentikan proses PHK hingga sengketa diselesaikan melalui arbitrase, yaitu mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang melibatkan pihak ketiga sebagai penengah.
Menurut mereka, perjanjian kerja di Meta memang mengharuskan perselisihan hubungan kerja diselesaikan melalui arbitrase secara individual.
Namun, ketentuan tersebut dinilai tidak berlaku untuk permohonan perlindungan sementara dari pengadilan.
Mereka mengatakan gugatan itu diajukan untuk mempertahankan status quo sehingga para penggugat tetap bekerja selama proses arbitrase berlangsung.
"Dampak yang dialami para penggugat tidak dapat dipulihkan, hanya dengan pemberian ganti rugi uang setelah PHK benar-benar berlaku," demikian bunyi gugatan tersebut.
Gugatan itu juga menyinggung potensi hilangnya fasilitas asuransi kesehatan yang disubsidi perusahaan bagi karyawan yang sedang hamil, menjalani pemulihan pascamelahirkan, atau menjalani pengobatan.
Menanggapi hal ini, Meta menyatakan membantah seluruh tuduhan tersebut.
Juru bicara Meta mengatakan perusahaan tidak menggunakan AI untuk menentukan karyawan yang terkena PHK.
"Tuduhan ini tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta. Pengelolaan tenaga kerja serta keputusan organisasi dibuat oleh manusia, bukan AI," kata juru bicara Meta kepada Fox Business.
Sekitar separuh dari para penggugat diketahui mengambil cuti karena alasan pengasuhan anak atau kehamilan.