WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Rasa cemas seketika menyelimuti Paulus Hago, seorang warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang baru tiga bulan tinggal di Jalan Veteran Sungai Bilu, gang Merpati, Kelurahan Melayu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Warga asal NTT yang baru merantau di tanah Seribu Sungai tersebut, terkejut saat mengetahui kabar kampung halaman tanah kelahirannya NTT, khususnya Maumere, Flores terjadi gempa pada Sabtu (14/08/2026).

Paulus cemas akan keadaan anggota keluarga, terutama orangtuanya yang ada di Maumere, NTT. Begitu tahu kabar gempa NTT, Paulus pun langsung menghubungi saudara-saudaranya yang ada di Maumere. 

Diceritakan Paulus, pertama kali menelpon salah satu anggota keluarganya melalui Whatsapp (Wa), tak ada respon. Ia kemudian menelpon saudaranya yang satunya lagi, namun tak ada jawaban.

Paulus lalu membuka grup Wa keluarganya. Di grup Wa itu, ia membaca pesan dari saudara-saudaranya yang ada di Maumere, NTT.

Salah satu pesan berasal dari kakak perempuan Paulus, yang berisikan informasi mengenai kondisi di Ende (salah satu wilayah terdampak gempa NTT).

Kabarnya, salah satu ruas jalan yang menghubungkan dua Kabupaten yakni Bajawa dan Ende tidak bisa diakses karena tertimpa longsor akibat gempa NTT.

Baca Juga Kisah Korban Gempa NTT: "Kami Masih Trauma Musibah Tsunami 1992"

Baca Juga Kapal Pesiar Berlogo Kemhan Jadi Pangkalan Bergerak Haji Isam Garap Proyek Pangan

Informasi mengenai ruas jalan yang longsor gegara gempa NTT tersebut disampaikan di grup Wa, karena salah satu anggota keluarga Paulus sedang dalam perjalanan dari arah Bajawa menuju ke Ende.

Tujuannya, agar saudara Paulus tersebut tidak melintas dan tetap dalam kondisi aman. 

"Saya kaget pas pertama tahu ada gempa di NTT. Terus saya buka facebook lihat ada video ruang tunggu penumpang kapal laut di Pelabuhan Maumere runtuh karena gempa," kata Paulus.