WARTABANJAR.COM, MAUMERE - Sabtu (15/08/2026) sekitar pukul 05.58 Wita, warga Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak panik dan lari berhamburan keluar dari rumah.

Warga  Maumere yang tinggal di area pinggiran pantai Laut Flores (utara Kota Maumere), dilaporkan lari mengevakuasi diri ke ruas badan jalan terdekat, karena gempa yang terjadi di wilayah tersebut.

Kepanikan warga Mumere makin bertambah, lantaran mereka takut kalau gempa bakal disusul dengan adanya tsunami.

Kepanikan juga meliputi warga di Kota Ende, Flores, NTT. Gempa juga menggoncang wilayah tersebut.

Warga yang panik lari menjauh dari bangunan rumah tinggal mereka, lalu mengungsi ke area yang aman.

"Kami di sini saat gempa, semua lagi siap mau berangkat kerja, ada yang mau ke sekolah. Pas gempa, kami semua di perumahan lari berkumpul di tanah lapang sebelah timur perumahan," ungkap Fani, salah seorang warga Ende, Flores, NTT saat dihubungi Wartabanjar.com dari Banjarmasin, Sabtu (15/08/2026).

Gempa tektonik magnitudo 7,7 (belakangan diperbaharui BMKG menjadi magnitudo 7) yang berpusat di Mbay, Kabupatan Nagekeo, Flores, NTT tersebut membuat salah seorang warga Maumere, Tati, terkenang peristiwa gempa dan tsunami pada Desember 1992.

Tati menceritakan insiden gempa saat ini, situasinya persis seperti gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Maumere pada Desember 1992.

Baca Juga: Data Sementara Belasan Orang Meninggal, Korban Gempa NTT Terus Bertambah

Baca Juga: Flores Back Arc Thrust Jadi Penyebab Gempa Bumi Besar M7 di NTT, Ini Penjelasannya

"Goncangan gempa tadi pagi itu rasanya seperti kejadian gempa tsunami tahun 1992. Mirip meski 1992 jauh lebih mengerikan," katanya.

"Waktu 1992 itu orang lari berhamburan keluar siang bolong. Takut. Lalu orang teriak-teriak tsunami... tsunami... Tiba-tiba lihat air laut sudah mulai naik ke darat. Kami lari ketakutan sekali waktu itu," tutur Tati.

Peristiwa gempa dan tsunami 1992 masih membekas di benak Tati.

Bahkan, kata Tati,  bukan hanya dirinya, warga Maumere lainnya yang pernah merasakan peristiwa memilukan tahun 1992 juga masih ada rasa trauma.