Studi tersebut belum menguji robot kecoa dalam skenario bencana nyata, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa teknologi tersebut siap diterapkan di lapangan.

Menurut tim peneliti, pendekatan ini lebih efisien dibanding merancang robot amfibi berukuran mini dari nol.

Pada penelitian lain yang terbit pada 2025, para peneliti juga berhasil mengendalikan kawanan 20 kecoa cyborg yang bergerak secara berkelompok.

Berbeda dari riset sebelumnya yang berfokus pada koordinasi gerakan, studi terbaru ini bertujuan memperluas kemampuan kecoa agar dapat beroperasi di lingkungan yang sebelumnya tidak dapat dijangkau, seperti area tergenang air atau minim oksigen. (Wartabanjar.com)