Para guru memilih menghadirkan solusi yang lebih manusiawi.

Agar Talita tidak menjalani hari pertamanya seorang diri, sekolah menggabungkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan SDN Teluk Dalam 9 yang berada dalam satu kompleks.

Sebanyak 19 murid baru dari sekolah tetangga bergabung.

Mendadak, halaman sekolah kembali dipenuhi tawa anak-anak.

Tak ada lagi kesan sepi.

Plt Kepala SDN Teluk Dalam 10, Arif Rahman Hakim, mengatakan keputusan menggabungkan MPLS merupakan hasil diskusi bersama pengawas pembina.

Tujuannya sederhana. Bukan sekadar karena jumlah murid hanya satu.

Tetapi agar setiap anak memperoleh pengalaman pertama di sekolah yang sama hangatnya.

Anak-anak disambut bersama di lapangan.

Mereka mengikuti permainan, ice breaking, saling berkenalan, hingga memasuki kelas dengan suasana penuh canda.

Selama lima hari MPLS, Talita memiliki teman bermain, teman belajar, sekaligus teman mengenal lingkungan sekolah.

Tidak ada yang ingin membiarkan seorang anak memulai pendidikan dasar dengan rasa kesepian.

Ibunda Talita, Siti Mariam, mengaku baru mengetahui putrinya menjadi satu-satunya murid setelah proses pendaftaran selesai.
Sempat terlintas keinginan memindahkan sekolah.

Namun niat itu akhirnya dibatalkan.

Lokasi SDN Teluk Dalam 10 yang dekat dari rumah menjadi alasan utama keluarga tetap bertahan.

Baginya, yang terpenting bukan banyak atau sedikitnya teman di hari pertama.

Yang lebih penting adalah semangat anak untuk belajar.

"Kalau jadi satu-satunya murid di kelas juga tidak masalah," ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya tersimpan keyakinan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh jumlah siswa.

Arif memastikan Talita tetap akan memperoleh layanan pendidikan yang sama seperti murid di sekolah lain.

Bahkan, dalam banyak hal, perhatian guru kepadanya bisa jauh lebih intensif.

Satu siswa bukan berarti satu sekolah menyerah.

Justru menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan terbaik, berapa pun jumlah murid dalam satu kelas.

Di tengah ramainya perbincangan tentang jumlah peserta didik baru, akreditasi, hingga zonasi sekolah, kisah Talita menghadirkan sudut pandang yang berbeda.