Bercak Darah Kuak Tragedi Tumbang Kalemei, Polisi Katingan Disiksa Lalu Dibuang ke Sungai
Tim Satresnarkoba Polres Katingan kemudian bergerak melakukan penggerebekan pada Kamis dini hari dengan harapan menangkap target tanpa menimbulkan keributan.
Namun situasi berubah dalam hitungan menit.
Saat melakukan penindakan, petugas mendapat perlawanan dari anggota keluarga sang bandar narkoba dengan menggunakan senjata tajam.
Berdasarkan penjelasan Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan, suasana semakin kacau ketika terdengar teriakan "rampok" yang memicu berdatangannya massa ke lokasi.
Massa itu kemudian diduga ikut menyerang aparat menggunakan berbagai senjata tajam, balok kayu bahkan senjata api rakitan, sehingga operasi berubah menjadi pertempuran yang tidak seimbang.
Dalam kekacauan itu, sembilan personel Polres Katingan yang melakukan penggerebekan berhasil menyelamatkan diri dengan berenang menyeberangi Sungai Katingan.
Namun tiga rekan mereka, Yudhie Perdana Putra, Sumariyanto, dan Nopandri Ramadhana tertinggal.
Mereka lantas diduga menjadi aksi keberingasan massa.
Bagi Kompolnas, pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti pada para pelaku yang berada di lokasi penyerangan.
Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa aparat harus membongkar hingga ke akar jaringan narkoba yang menjadi dalang di balik tragedi tersebut.
"Peristiwa ini harus menjadi spirit baru untuk semakin mengencangkan pemberantasan narkoba. Tidak boleh berhenti di pelaku lapangan, tetapi harus sampai ke gembong dan jaringan distribusinya," tegasnya.
Kini, polisi telah menangkap sejumlah terduga pelaku penyerangan.
Sementara bandar utama yang menjadi target operasi masih terus diburu.
Tragedi Tumbang Kalemei bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga tiga anggota Polri yang gugur.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba menyimpan risiko yang sangat besar, bahkan harus dibayar dengan nyawa para penegak hukum yang sedang menjalankan tugas negara. (wartabanjar.com/sud)