Tiga Polisi Gugur di Tepian Sungai Katingan, Tragedi Desa Tumbang Kalemei yang Tak Boleh Terulang
WARTABANJAR.COM, KATINGAN - Kamis (2/7/2026) dini hari WIB, kabut tipis masih menggantung di kegelapan malam menjelang fajar di pedalaman Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Di balik rimbunnya hutan dan derasnya aliran Sungai Katingan yang mengelilingi Desa Tumbang Kelemei, sebuah operasi pemberantasan narkoba berubah menjadi tragedi paling kelam dalam sejarah penegakan hukum di Kalteng.
Secara administratif, Desa Tumbang Kalemei yang memiliki luas wilayah sekira 140 kilometer persegi ini berada di Kecamatan Katingan Tengah.
Desa Tumbang Kalemei berada di kawasan pedalaman Kalteng yang didominasi hutan tropis dan dialiri sejumlah sungai kecil yang terhubung dengan Daerah Aliran Sungai Katingan.
Akses menuju desa itu bisa melalui jalur darat meskipun pada musim tertentu jalur sungai masih menjadi pilihan warga setempat.
Warga Desa Tumbang Kalemei kebanyakan hidup dari berkebun, bertani ladang, mencari hasil hutan, berdagang dan menambang.
Kini nama desa itu mendunia setelah terjadinya tragedi gugurnya 3 polisi.
Bermula dari operasi yang dilakukan personel Satresnarkoba Polres Katingan untuk membekuk dua terduga bandar narkoba, berinisial BI dan BU di desa itu.
Namun, aparat yang datang diserang oleh massa yang membawa berbagai senjata tajam. Situasi berubah kacau.
Jeritan dan teriakan bercampur suara injakan kaki massa penuh amarah bergema di tepian Sungai Katingan
Tim Satresnarkoba terdesak, Mereka berlari lalu berenang mengarungi sungai berarus deras guna menyelamatkan diri dari amukan massa yang membawa senjata tajam, potongan kayu bahkan ada yang menyebut senjata api rakitan,
Empat nyawa melayang. Korban pertama adalah Teriyo, warga sipil yang diduga anggota keluarga sang bandar narkoba.
Ia terkena tembakan karena nekat mengayunkan senjata tajam ke arah polisi.
Kemudian, selang beberapa jam kemudian, ketika situasi chaos sudah mereda, Aipda (pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Aiptu Anumerta) Yudhie Perdana Putra ditemukan sudah meninggal.
Jenazahnya tergeletak penuh luka akibat senjata tajam di sebuah lanting.
Sementara dua polisi lain, Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumariyanto tidak diketahui keberadaannya. Hilang.