Keputusan wasit itulah yang menjadi awal dari sebuah aksi protes paling ekstrem dalam sejarah sepakbola. Alih-alih ingin meraih kemenangan saat menghadapi AS Adema, para pemain SOE memilih melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun sebelumnya.
Begitu pertandingan dimulai dan mereka menguasai bola, para pemain SOE langsung mengarahkan bola ke gawang sendiri. Gol bunuh diri pertama tercipta. Lalu gol kedua. Kemudian gol ketiga. Dan terus berlanjut tanpa henti.
Selama 90 menit penuh, para pemain SOE berulang kali memasukkan bola ke gawang mereka sendiri sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit, yang mereka anggap telah merampas gelar juara.
Dengan rata-rata satu gol setiap 36 detik, papan skor terus bergerak hingga angka yang sulit dipercaya. 149-0. AS Adema menang tanpa perlu bersusah payah menyerang.
Para pemain AS Adema bahkan hanya berdiri dan menyaksikan apa yang terjadi di depan mata mereka dengan ekspresi kebingungan.
Mantan kapten Timnas Madagaskar, Rado Rasoanaivo, mengaku tak percaya ketika pertama kali mendengar hasil pertandingan tersebut.
“Secara pribadi saya sangat penasaran, karena pertandingan itu seharusnya berlangsung sengit. Kedua tim merupakan salah satu yang terbaik di negara ini, dan banyak pemain mereka merupakan anggota tim nasional,” ujarnya.
Rasoanaivo mengaku, berbagai pertanyaan langsung muncul di kepalanya. “Banyak pertanyaan berputar di kepala saya. Kemudian Anda mulai menganalisis situasinya dan alasan di baliknya. Itu benar-benar aneh.”







