Pemanasan global menyebabkan es di kutub mencair dan meningkatkan volume air laut secara keseluruhan. Akibatnya, permukaan laut naik secara bertahap dari tahun ke tahun. Kenaikan ini memperbesar risiko banjir rob, terutama di kota-kota pesisir yang padat penduduk dan minim perlindungan alami.
c. Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence)
Kegiatan manusia seperti penyedotan air tanah secara berlebihan menyebabkan tanah di wilayah pesisir perlahan-lahan tenggelam (subsiden). Ketika muka tanah turun lebih cepat dibanding naiknya air laut, risiko rob meningkat tajam. Jakarta Utara, misalnya, mengalami penurunan tanah hingga 10–20 cm per tahun di beberapa wilayah.
d. Hilangnya Sabuk Hijau Pesisir (Mangrove dan Vegetasi Pantai)
Penggundulan mangrove untuk tambak, permukiman, atau proyek reklamasi menghilangkan pelindung alami dari gelombang laut dan pasang tinggi. Tanpa vegetasi penahan, air laut lebih mudah menerobos daratan.
e. Pembangunan di Zona Rawan Rob
Banyak wilayah pesisir yang mengalami urbanisasi tanpa memperhatikan risiko banjir rob. Pembangunan permukiman, industri, atau pelabuhan di dataran rendah yang seharusnya menjadi zona penyangga memperbesar potensi terkena rob.
f. Reklamasi dan Perubahan Garis Pantai
Kegiatan reklamasi dapat mengganggu aliran alami air laut dan mempersempit ruang pasang surut. Jika tidak dirancang dengan baik, reklamasi justru memperparah banjir rob karena menghalangi aliran air kembali ke laut.
g. Drainase Pesisir yang Tidak Memadai
Di banyak kota pesisir, sistem drainase belum dirancang untuk mengatasi kombinasi antara air hujan, pasang laut, dan intrusi air asin. Ketika air laut pasang, saluran air bisa terisi balik oleh air laut, sehingga air hujan pun tidak bisa keluar ke laut. (Wartabanjar.com/BMKG)
Editor Restu







