WARTABANJAR.COM, JAKARTA – BPJS Kesehatan mengungkap temuan mengejutkan terkait penyakit gagal ginjal yang kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai ditemukan pada remaja hingga usia 20 tahunan.

Hal tersebut disampaikan analis kebijakan penjaminan manfaat rujukan pratama BPJS Kesehatan, Tiffany Monica, dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia di Jakarta.

Menurut Tiffany, data klaim layanan kesehatan yang tercatat di BPJS Kesehatan menunjukkan adanya pasien gagal ginjal dari kelompok usia belasan tahun hingga usia muda yang masih produktif.

Ia menjelaskan, kasus tersebut ditemukan dalam berbagai tahapan penyakit ginjal, mulai dari stadium menengah hingga stadium lanjut yang membutuhkan penanganan medis intensif.

Meski demikian, sebagian besar pasien gagal ginjal di Indonesia masih didominasi kelompok usia lebih tua, terutama laki-laki dengan rentang usia sekitar 50 hingga 60 tahun.

Data yang dihimpun BPJS Kesehatan sepanjang 2025 juga menunjukkan tingginya biaya pengobatan penyakit ini. Total pembiayaan untuk penanganan gagal ginjal mencapai sekitar Rp13 triliun.

Jumlah tersebut menempatkan gagal ginjal sebagai penyakit dengan biaya pengobatan terbesar kedua setelah penyakit jantung yang pembiayaannya mencapai sekitar Rp17 triliun.

Meski demikian, jumlah pasien gagal ginjal sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasien penyakit jantung. Tercatat sekitar 640 ribu pasien gagal ginjal, sedangkan pasien penyakit jantung mencapai sekitar tiga juta orang.

Biaya perawatan pasien gagal ginjal yang tinggi terutama disebabkan oleh kebutuhan terapi jangka panjang seperti hemodialisis atau cuci darah.

BPJS Kesehatan mencatat klaim layanan hemodialisis pada 2025 mencapai sekitar 147 ribu kunjungan, meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pasien gagal ginjal umumnya harus menjalani terapi cuci darah secara rutin sebanyak dua hingga tiga kali setiap minggu. Dalam satu bulan, frekuensi terapi tersebut bisa mencapai sembilan hingga dua belas kali.

Selain hemodialisis, metode terapi lain yang digunakan adalah Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Sepanjang 2025 tercatat sekitar 3.247 pasien menjalani terapi tersebut dengan total pembiayaan mencapai sekitar Rp210 miliar.