Cleveland Clinic menjelaskan bahwa labiaplasty dan vaginoplasty pada dasarnya merupakan tindakan medis yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tertentu akibat masalah kesehatan, cedera, atau faktor medis lainnya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat seiring tren kosmetik.

American Society of Plastic Surgeons menyebut alasan perempuan memilih prosedur ini beragam, mulai dari rasa tidak nyaman saat beraktivitas, iritasi, hingga faktor psikologis. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa setiap tindakan bedah tetap memiliki risiko.

Risiko yang dapat terjadi meliputi perdarahan, infeksi, hingga komplikasi lanjutan akibat pengangkatan jaringan yang berlebihan. National Institutes of Health (NIH) mencatat bahwa komplikasi ini bisa berdampak permanen dan memerlukan tindakan lanjutan.

Smith mengungkapkan, dokter sempat membahas kemungkinan operasi rekonstruksi sebagai upaya perbaikan. Prosedur tersebut menggunakan teknik yang umumnya diterapkan pada kasus korban mutilasi genital perempuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tindakan pada organ genital perempuan tanpa alasan medis yang jelas dapat membawa dampak serius bagi kesehatan fisik dan mental, serta menjadi perhatian global dalam isu kesehatan perempuan.

Kisah Smith menjadi pengingat penting bahwa setiap prosedur medis—terutama yang bersifat kosmetik—perlu dipertimbangkan dengan matang, disertai edukasi yang jujur dan menyeluruh tentang manfaat serta risikonya.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad