Kisah Cak Nun Menemui Kepala Suku Dayak, Dialog Hati yang Menghentikan Konflik Dayak–Madura
Cak Nun lalu memilih berbicara langsung dari hati ke hati. Tanpa pengawalan berlebihan, tanpa naskah pidato.
“Saya datang ke dia. Permisi, saya datang dari Jogja. Saya ke sini untuk menegaskan: saya ini musuh sampean atau saudara sampean?” kisah Cak Nun.
Jawaban kepala suku Dayak itu sederhana, tetapi menentukan segalanya.
“Saudara, Cak. Sampean saudara saya.”
Bagi Cak Nun, pengakuan tersebut sudah cukup untuk menghentikan potensi perang.
“Begitu dia menyatakan saudara saya, masa mau perang,” katanya.
Hari itu, hingga sore, ribuan warga Madura dan ribuan warga Dayak berkumpul di satu alun-alun. Tidak terjadi bentrokan. Yang hadir justru kesadaran kolektif bahwa konflik tidak akan membawa siapa pun pada kemenangan.
Pengalaman Cak Nun di Sanggau menjadi simbol bahwa konflik horizontal tidak selalu harus diselesaikan dengan kekuatan negara atau aparat. Pendekatan humanis, bahasa budaya, dan sentuhan spiritual terbukti mampu menembus sekat suku, agama, dan trauma kolektif.
Kisah ini sekaligus menegaskan pentingnya peran tokoh adat, tokoh budaya, dan tokoh spiritual dalam menjaga keutuhan bangsa—terutama di saat negara berhadapan dengan luka sosial yang dalam.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad