WARTABANJAR.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya membuat langkah percepatan penangana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu (26/8/2026). 

Pembuatan sumor bor dan embung portabel di lokasi kebakaran jadi solusi penanganan karhutla. 

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi memantau pembuatan sumur bor di Katimpun, ada tiga sumur bor yang dibuat.

Budi menuturkan tiga sumur bor ini merupakan bantuan dari Kodam XXII/Tambun Bungai. 

“Sementara itu satu titik sumur di RT 002, dua titik sumur bor lainnya kita buat di Jalan AMD, tepatnya di tengah dan ujung dekat Jalan Raflesia. Di lokasi ini kebakaran lahan terus meluas sehingga harus dilakukan penyekatan,” sebutnya.

Budi menegaskan dengan pembuatan sumur bor ini maka personil damkar dan relawan dengan mudah untuk melakukan pemadaman. Sumber air cukup melimpah dari sumur bor. 

BPBD Kota Palangka Raya juga memasang embung portabel berkapasitas 5.000 liter di halaman Kantor Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Selasa (25/8/2026).

Baca Juga Hampir 4 Bulan Buron, Tersangka Penganiaya Disabilitas di Banjarmasin Belum Tertangkap

Baca Juga Hutan Semak Kecamatan Gambut Banjar Terbakar, Kabut Asap Tebal Rambah Banjarmasin

Embung portabel ini disiapkan sebagai sarana penampungan air untuk mendukung proses pengisian ulang truk tangki pemadaman karhutla. 

Langkah ini dilakukan guna mempercepat mobilisasi dan distribusi air ke wilayah yang membutuhkan, khususnya dalam mendukung penanganan kondisi darurat.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi mengatakan, pemasangan embung portabel merupakan bagian dari upaya BPBD dalam memperkuat kesiapsiagaan serta mempercepat pelayanan kepada masyarakat.

“Embung portabel ini kita siapkan untuk memudahkan pengisian ulang truk tangki, sehingga pendistribusian air dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif,” katanya.

Dia menjelaskan keberadaan sarana penampungan sementara tersebut diharapkan dapat mendukung operasional tim di lapangan, terutama ketika kebutuhan air meningkat dan diperlukan distribusi secara cepat ke sejumlah lokasi.