WARTABANJAR.COM, PAPUA - Papua diguncang duka mendalam setelah Irene Sokoy, ibu hamil asal Kampung Hobong, Sentani, meninggal bersama bayinya usai ditolak empat rumah sakit di Jayapura. Tragedi memilukan ini memicu reaksi keras dari Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri, yang menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti nyata buruknya manajemen kesehatan di wilayahnya.

“Saya mohon maaf atas kebodohan jajaran pemerintah dari atas sampai bawah. Ini contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di Papua,” tegas Fakhiri saat mendatangi rumah duka, Sabtu (22/11/2025).

Ia mengakui banyak fasilitas kesehatan di Papua tidak dikelola dengan baik, termasuk kerusakan alat medis dan kurangnya pengawasan. Gubernur berjanji akan mengganti direktur sejumlah rumah sakit di bawah pemerintah provinsi dan meminta bantuan langsung kepada Menteri Kesehatan untuk melakukan perbaikan menyeluruh.

“Layani dulu pasien, baru urus yang lain. Tidak ada alasan,” tegas mantan Kapolda Papua tersebut.

Perjalanan Tragis: Dari Satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit Lain Tanpa Pertolongan

Data menunjukkan Irene mulai mengalami kontraksi pada Minggu siang (16/11). Keluarga membawanya dengan speedboat menuju RSUD Yowari. Namun, meski kondisinya memburuk, penanganan tak segera diberikan. Dokter tidak berada di tempat, sementara surat rujukan baru diproses menjelang tengah malam.

Keluarga kemudian berupaya mencari pertolongan ke RS Dian Harapan, RSUD Abepura, hingga RS Bhayangkara. Namun, lagi-lagi layanan tak kunjung diberikan. Di RS Bhayangkara, keluarga bahkan diminta menyiapkan uang muka Rp 4 juta karena ruang BPJS penuh.

“Bukan pertolongan yang diberikan, tapi kami diminta bayar uang muka,” ujar Abraham Kabey, Kepala Kampung Hobong sekaligus mertua almarhum.

Irene akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan kembali menuju RS Bhayangkara setelah mengalami kejang-kejang.

Klarifikasi Rumah Sakit: Alasan Penuh, Renovasi, Dokter Tidak Ada

Empat rumah sakit memberikan penjelasan berbeda atas kejadian ini:

RSUD Yowari