TRAGEDI Ibu & Bayi Meregang Nyawa di Papua: Ditolak 4 RS, Gubernur Murka dan Akui Kebobrokan Total Layanan Kesehatan
Direktur Maryen Braweri menyebut pasien datang dengan pembukaan lima dan kondisi janin menurun, sehingga harus dirujuk untuk operasi. Dokter kandungan kebetulan sedang bertugas di luar kota, sehingga hanya ada satu pilihan: dirujuk ke RS Dian Harapan.
RS Dian Harapan
Mereka menyatakan ruang NICU dan kebidanan penuh, dokter obgyn cuti, dan dokter anestesi tidak siaga. Pihak rumah sakit mengaku sudah memberi informasi kondisi tersebut sebelum ambulans RSUD Yowari tiba.
RSUD Abepura
Pasien tidak bisa ditangani karena ruang operasi sedang direnovasi.
RS Bhayangkara
Direktur AKBP dr Romy Sebastian menyebut pasien datang tanpa rujukan resmi dalam sistem Sisrut. Ruang perawatan BPJS penuh sehingga hanya tersedia kamar VIP. Rumah sakit membantah melakukan penolakan, namun mengakui keluarga tidak memiliki uang muka untuk kelas umum.
Kebijakan Darurat Menunggu Realisasi
Fakhiri memastikan seluruh direktur rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, akan dikumpulkan untuk menyepakati satu prinsip: keselamatan pasien harus menjadi prioritas nomor satu.
“Saya pastikan akan membenahi semua ini,” ujarnya tegas.
Tragedi Irene Sokoy kini menjadi sorotan besar dan menuntut perubahan nyata dalam sistem kesehatan Papua.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur muhammad