Menurut Dadan, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan komunitas lokal.
“Program MBG adalah komitmen pemerintah dalam memastikan pemerataan gizi bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi komitmen itu harus diiringi dengan disiplin tinggi dalam pelaksanaan,” ujarnya.
Selain fokus pada pemenuhan gizi, keberadaan dapur MBG juga menyerap ribuan tenaga kerja lokal — mulai dari juru masak, petugas distribusi, administrasi, hingga tenaga kebersihan.
Tak hanya itu, ribuan UMKM lokal kini ikut menjadi bagian dari rantai pasok MBG, seperti penyedia bahan pangan, bumbu, dan pengemasan.
Namun, dengan adanya penutupan sementara ini, sejumlah pelaku usaha kecil terancam kehilangan pemasukan sementara waktu.
Dadan menegaskan, penutupan 106 dapur MBG bersifat sementara dan hanya sampai proses evaluasi serta pelatihan ulang standar keamanan pangan selesai.
“Kami tidak ingin menutup permanen, tapi kami harus memastikan keamanan penerima manfaat menjadi prioritas utama,” tutupnya.(Wartabanjar.com/Berbagai Sumber)
editor: nur muhammad







