Ngaku Cucu Menteri, Pemilik Dapur MBG Intimidasi Kepala SPPG hingga Menangis, BGN Temukan Fakta Mengejutkan!

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Skandal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat dan memicu perhatian publik. Seorang pemilik dapur MBG yang mengaku sebagai cucu menteri diduga melakukan tekanan hingga intimidasi terhadap para kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bahkan membuat mereka menangis. Kini, operasional dapur tersebut resmi dihentikan sementara.

Kasus ini terungkap saat Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, didatangi dua kepala SPPG dari Ponorogo ketika melakukan kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur, pada akhir pekan lalu.

Kedua kepala SPPG tersebut, termasuk Syafi’i Misbachul Mufid, datang untuk meminta perlindungan setelah mengaku mengalami tekanan berkepanjangan dari yayasan yang menaungi dapur MBG tempat mereka bekerja.

Dugaan Intimidasi dan Manipulasi Anggaran

Pengelolaan dapur MBG tersebut berada di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara. Selama berbulan-bulan, para kepala SPPG, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan disebut kerap diintimidasi dan ditakut-takuti.

Pemilik yayasan bahkan mengklaim dirinya sebagai cucu seorang menteri untuk memperkuat tekanan terhadap para petugas di lapangan.

Tak hanya itu, ditemukan pula dugaan manipulasi anggaran bahan pangan. Dari alokasi Rp 10.000 per porsi yang ditetapkan, hanya sekitar Rp 6.500 yang benar-benar digunakan.

Akibatnya, para kepala SPPG harus menutup kekurangan biaya dengan uang pribadi agar makanan yang disajikan kepada siswa tetap layak.

“Saya kasihan dengan para siswa penerima manfaat,” ungkap Mufid dengan nada emosional.

BGN Murka, Dapur Langsung Di-suspend

Mendengar pengaduan tersebut, Nanik mengaku geram. Ia menilai tindakan yayasan tersebut tidak manusiawi dan mencederai tujuan program MBG.

Nanik pun langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Albertus Dony Dewantoro, untuk melakukan inspeksi mendadak.

Hasilnya, kondisi dapur ditemukan sangat memprihatinkan dan tidak memenuhi standar operasional. Lingkungan dapur kotor, berbau, serta fasilitas tidak layak digunakan.