Puasa yang dimaksud adalah dari tanggal 1–9 Dzulhijjah, terutama hari Arafah pada tanggal 9. Mengenai keutamaannya, Rasulullah bersabda (HR Muslim, dari Abu Qatadah): “Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Dalam hadits lain riwayat Imam Ahmad, Rasulullah memberi panduan kepada seorang sahabat dari Bahilah mengenai puasa sebulan penuh, lalu mengarahkan untuk cukup berpuasa di bulan Ramadan dan bulan-bulan mulia lainnya.
2. Mengumandangkan Takbir
Takbir disunnahkan selama hari-hari Dzulhijjah, terutama sejak tanggal 1 hingga akhir hari Tasyriq. Disuarakan dengan lantang oleh laki-laki dan lirih oleh perempuan, baik di rumah, pasar, jalanan, hingga masjid.
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah bertakbir di pasar, lalu masyarakat pun mengikuti takbir mereka. Hal ini menjadi pengingat sunnah yang mulai ditinggalkan oleh banyak orang.
Takbir bisa dilakukan secara mutlak kapan saja, dan juga muqayyad (setelah shalat fardhu).
3. Berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Bulan ini juga menjadi momen untuk memperbanyak dzikir, termasuk takbir, tahmid, dan tasbih. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 28:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ
“(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah kepada mereka berupa binatang ternak.







