WARTABANJAR.COM - Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam. Hal ini merujuk kepada penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang mengambill sumber hadits dari Imam Ahmad. Bahwa ketika Rasulullah SAW sedang menunaikan haji wada’ terakhir, beliau bersabda “Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Syaban.” Baca Juga Gelang Emasnya Dijambret, Warga Tabalong ini Rugi Rp 75 Juta Namun ada dua bulan yang memiliki pahala amalanya tidak berkurang. Yak j Ramadan dan Dzulhijjah. Dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda: شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ ”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Bukhari 1912 dan Muslim 1089). Berikut beberapa amalan yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW pada Dzulhijjah. 1. Puasa Sunah, Terutama Puasa Arafah Puasa menjadi amalan utama di awal Dzulhijjah. Hafshah RA meriwayatkan: “Empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: puasa Asyura’, puasa sepuluh hari di Dzulhijjah, puasa tiga hari tiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad) Puasa yang dimaksud adalah dari tanggal 1–9 Dzulhijjah, terutama hari Arafah pada tanggal 9. Mengenai keutamaannya, Rasulullah bersabda (HR Muslim, dari Abu Qatadah): “Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dalam hadits lain riwayat Imam Ahmad, Rasulullah memberi panduan kepada seorang sahabat dari Bahilah mengenai puasa sebulan penuh, lalu mengarahkan untuk cukup berpuasa di bulan Ramadan dan bulan-bulan mulia lainnya. 2. Mengumandangkan Takbir Takbir disunnahkan selama hari-hari Dzulhijjah, terutama sejak tanggal 1 hingga akhir hari Tasyriq. Disuarakan dengan lantang oleh laki-laki dan lirih oleh perempuan, baik di rumah, pasar, jalanan, hingga masjid. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah bertakbir di pasar, lalu masyarakat pun mengikuti takbir mereka. Hal ini menjadi pengingat sunnah yang mulai ditinggalkan oleh banyak orang. Takbir bisa dilakukan secara mutlak kapan saja, dan juga muqayyad (setelah shalat fardhu). 3. Berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Bulan ini juga menjadi momen untuk memperbanyak dzikir, termasuk takbir, tahmid, dan tasbih. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 28: لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ “(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.” Dzikir mencakup pula niat yang tulus dan kesadaran penuh dalam setiap tindakan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah. 4. Shalat Iduladha Shalat Iduladha sangat dianjurkan bagi semua muslim, baik laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Bahkan wanita yang haid pun dianjurkan untuk hadir mendengarkan khutbah, walau tak ikut shalat. Dalam surat Al-Kautsar ayat 2, Allah berfirman: L فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Keutamaannya juga merujuk pada surat Al-Maidah ayat 3, yang menyebut hari ini sebagai hari disempurnakannya agama Islam. Dikutip dari NU Online, dijelaskan bahwa 5. Menyembelih Hewan Kurban Anjuran untuk berkurban sangat ditekankan selama Dzulhijjah. Dalam Al-Kautsar, Allah memerintahkan untuk menyembelih hewan kurban, yang menjadi amalan yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selama sIbnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selama sepuluh tahun tinggal di Madinah senantiasa berkurban tiap tahun. Dalam surat Al-Hajj ayat 37, Allah berfimuhsi لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (berbagai sumber) Editor Restu