Mirip Film "Bidaah", Kasus Pelecehan Gegerkan Ponpes Lombok Barat! 22 Santriwati Dipindahkan Demi Keamanan
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, MATARAM – Skandal pelecehan seksual yang terjadi di sebuah pondok pesantren di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, membuat publik geger. Sebanyak 22 santriwati dilaporkan menjadi korban perbuatan bejat yang dilakukan oleh oknum pimpinan pondok pesantren tersebut.
Kasus ini menyedot perhatian setelah para korban berani melapor, mengungkapkan bahwa kejadian yang mereka alami menyerupai alur cerita dalam film kontroversial asal Malaysia, "Bidaah", yang menampilkan tokoh agama bernama Walid sebagai pelaku pelecehan terhadap santriwatinya.
Menanggapi kasus ini, Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ), mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi.
“Kami berharap situasi tetap kondusif karena kasus ini sudah dalam penanganan aparat penegak hukum,” ujar LAZ dalam pernyataan resminya di Mataram, Rabu (23/4/2025).
BACA JUGA:Rossoneri Menggila! AC Milan Libas Inter 3-0, Mimpi Treble Nerazzurri Musnah di Giuseppe Meazza
Santriwati Segera Dipindahkan ke Tempat Lebih Aman
Pemkab Lombok Barat bersama Kantor Kementerian Agama setempat langsung menggelar rapat darurat guna menyusun rencana pemindahan seluruh santri dari pondok pesantren tersebut ke lembaga pendidikan yang lebih aman dan terpercaya.
“Mereka tidak boleh putus sekolah. Pemerintah daerah akan memastikan para santri tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak,” tegas LAZ.
Pemerintah juga berkomitmen memberikan pendampingan psikologis dan hukum bagi seluruh korban agar mereka dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan rasa aman.
UPTD PPA NTB Turun Tangan
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, telah menginstruksikan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk segera turun tangan membantu para korban. Tim UPTD akan memastikan proses pendampingan dilakukan secara profesional serta menjaga penuh privasi dan identitas para santriwati.
Catatan Hitam Dunia Pendidikan Pesantren
Kasus memilukan ini kembali menjadi catatan hitam bagi dunia pendidikan pesantren yang seharusnya menjadi tempat aman dan penuh nilai moral. Masyarakat pun mendesak agar pelaku dihukum seberat-beratnya dan pengawasan terhadap pesantren diperketat demi mencegah kasus serupa di masa depan.(Wartabanjar.com/Kompas.com/Antaranews.com/Detik.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad