Melihat Geliat Dakwah Dai Indonesia di Jepang Lewat Masjid Nusantara Tsubame Niigata

Mereka semua menyatakan antusias dan merasa terobati atau kerinduan masakan nusantara. Melihat geliat para jamaah terhadap masakan Nusantara.

Akhirnya kami pun menjadikan menu Nusantara dan dapur masjid ini sebagai media dakwah. Yaitu dengan memasak menu Nusantara dengan porsi banyak, untuk kemudian dapat menarik minat jamaah agar hadir ke masjid.

Bahkan setiap hari kami selalu memberikan informasi menu masakan kami di grup whatsapp Masjid Nusantara Tsubame Niigata.

Seminggu berjalan, ternyata cara tersebut cukup efektif untuk meningkatkan minat jamaah untuk datang ke masjid.

Ketika kami menginfokan di grup WA pun, membuat interaksi online menjadi hidup dan meningkat.

Kini mulai banyak yang berdatangan di masjid untuk shalat berjamaah dan tarawih.

Bahkan setelah ibadah selesai, interaksi dilanjutkan di dapur masjid sebagai tempat favorit baru guna melepas penat setelah seharian bekerja.

Lewat kejadian ini, kami pun teringat akan filosofi dakwah dalam bahasa Jawa dari Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin yang merupakan salah satu anggota Wali Songo sebagai berikut: Wenehono teken marang wong kang wutho (berilah petunjuk bagi orang yang buta)
Wenehono mangan marang wong kang luwe (beirlah makan orang yang kelaparan)
Wenehono Busono marang wong kang Mudha (berilah busana bagi orang yang telanjang) Wenehono yupan marang wong kang kudhanan (berilah payung bagi orang yang kehujanan)

Pada intinya, filosofi tersebut mengajarkan bahwa dakwah memiliki makna yang luas.

Dakwah pun juga harus mampu menjadi jawaban kebutuhan umat. Oleh karenanya, dakwah tidak hanya selalu melalui majelis dan atau pidato di atas mimbar. Melainkan dakwah pun juga bisa dimulai dari dapur, untuk kemudian menuju masjid menjadi makmur. (Berbagai sumber)