WARTABANJAR.COM – Masjid Nusantara Tsubame Niigata Jepang yang mayoritas jamaahnya adalah para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan WNI yang menikah dengan warga lokal Jepang.
Masjid Nusantara Tsubame Nigata sendiri merupakan masjid yang cukup baru, awalnya merupakan sebuah gedung yang sudah tidak terpakai. Kemudian baru terbeli, direnovasi dan bisa ditempati saat bulan Januari 2025.
Dengan struktur bangunan berlantai dua, fasilitas di masjid ini cukup lengkap. Ada area depan yang diproyeksikan untuk toko halal, area masjid untuk shalat berjamaah, toilet pria – wanita di setiap lantai, ruang transit, kamar tidur, dan bahkan juga terdapar dapur masjid.
Dengan fasilitas tersebut, dai yang bertugas pun mampu memenuhi kebutuhan konsumsi selama Ramadhan dengan leluasa dan mandiri. Sehingga tidak ada istilah culture shock terhadap makanan Jepang.
Karena memang kami masih mampu dan leluasa untuk masak menu lokal nusantara dengan stok bahan masakan yang ada di kulkas dapur masjid.
Awalnya, kami memasak dengan ukuran porsi 3 orang saja, yaitu saya, Fahmi, dan Suratman sebagai orang yang selalu di Masjid.
Namun saat ibadah shalat tarawih selesai, dapur pun menjadi titik kumpul yang nyaman untuk para jamaah yang mayoritas TKI ini saling berinteraksi melepas penat.
Mereka duduk melingkar, mengitari meja makan yang juga bertempat di dapur masjid. Otimatis, secara langsung mereka pun juga mampu melihat menu apa yang telah kami tadinya kami santap saat berbuka puasa.
Ada sambal balado terong, bakwan goreng, sayur sup ayam dan menu nusantara lainnya.
Melihat menu nusantara tersebut, mereka pun tergiur untuk ikut menyantap. Dan benar, mereka cukup lahap saat memakannya.
Di antara jamaah itu ada yang bernama Wahyu dan Alfiyan dari Lampung, Affan dari Sragen dan Aan dari Pacitan.







