WARTABANJAR.COM – Banyak hikmah yang bisa diambil dalam bulan Ramadan, selain meningkatkan ketakwaan.
Secara lahiriah, puasa di bulan Ramadan diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum, dan kenikmatan duniawi lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, hakikat puasa jauh melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga.
Mengutip tulisan Firman Nugraha, Widyaiswara BDK Bandung, dalam dimensi hakikatnya, puasa adalah kesempatan untuk menjeda keterikatan dengan keduniaan. Keterikatan pada dunia sering kali membuat manusia lalai akan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Dengan berpuasa, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan memprioritaskan akhirat di atas dunia.
Konsep ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Sebenarnya kamu (hai orang-orang kafir) lebih mengutamakan kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)
Ayat ini mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal. Puasa menjadi sarana untuk melatih diri agar tidak terlalu terbuai dengan kenikmatan dunia yang fana. Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengandung dimensi spiritual yang mendalam, yaitu pengampunan dosa dan penyucian jiwa.







