WARTABANJAR.COM, PELAIHARI– Di tengah gempuran distraksi digital, upaya menghidupkan budaya literasi di Kabupaten Tanah Laut terus dipacu.

Salah satu motor penggeraknya adalah Taufik Nor, seorang pengawas sekolah yang meyakini bahwa tulisan adalah warisan yang takkan lekang oleh waktu.

“Menulis adalah cara paling sunyi untuk meninggalkan jejak yang panjang,” kutipan ini menjadi cermin perjalanan Taufik Nor.

Meski disibukkan dengan tanggung jawab sebagai pengawas SD di Kecamatan Jorong, ia tak pernah membiarkan tintanya mengering.

Baginya, menulis adalah ruang refleksi untuk mencatat kegelisahan sekaligus mendokumentasikan dinamika kehidupan sehari-hari.

Kecintaan Taufik pada dunia aksara bukanlah hal baru, benih itu sudah tertanam sejak ia masih berseragam putih-merah.

Berawal dari coretan sederhana di buku catatan hingga mengisi ruang majalah dinding saat SMP, Taufik menyadari bahwa untaian kata-katanya memiliki daya resonansi bagi orang lain.

Titik balik profesionalismenya terjadi pada tahun 2017.

Setelah sempat berkontribusi dalam berbagai antologi, ia meluncurkan buku tunggal perdananya yang bertajuk Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa.

Karya ini menjadi katalisator kepercayaan dirinya.

​“Dari situ jadi lebih percaya diri untuk terus menulis,” kenang Taufik, Jumat (15/5/2026) di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

BACA JUGA: IPTL Tancap Gas 2026: Literasi Tanah Laut Digarap Lewat Buku Massal dan Seni Pertunjukan

BACA JUGA: Pelantikan IPTL Dorong Partisipasi Publik Membangun Budaya Tulis

Eksistensinya di dunia literasi kian dipertegas melalui produktivitasnya mengirim artikel ke media massa, termasuk masa-masa aktifnya di salah satu koran di Kalimantan Selatan pada periode 2017–2019.

Kini, fokusnya terbagi antara tugas kependidikan dan penguatan ekosistem literasi daerah.

Deretan karyanya mencakup berbagai spektrum, mulai dari panduan karier seperti Naik Pangkat Apa Susahnya, hingga refleksi akademis dalam menggapai S2.

Tak hanya berhenti di ranah naratif, ia juga melahirkan inovasi pedagogis seperti Model APAM (Arisan Pemecahan Masalah) yang berbasis kearifan lokal, serta metode KASTURI yang kini menjadi referensi bagi para tenaga pendidik.