Kontribusi nyatanya bagi identitas daerah juga tertuang dalam penyusunan buku muatan lokal budaya Banjar khusus Tanah Laut untuk jenjang sekolah dasar.

Saat ini, Taufik tengah menyiapkan amunisi literasi terbaru berjudul "Jangan Salah Meletakkan Kasih Sayang, Menata Hati Menuju Ridho Ilahi."

Buku yang menyasar generasi muda ini lahir dari keprihatinannya terhadap pergeseran makna kasih sayang di era modern.

​“Kadang-kadang kasih sayang itu ditempatkan di tempat yang salah. Bukan bahagia yang didapat, malah luka di akhirat nanti,” jelasnya mengenai urgensi buku tersebut.

​Menggunakan pendekatan senandika (wacana atau percakapan seorang tokoh dengan dirinya sendiri dalam karya sastra seperti drama untuk curhat, mengungkapkan konflik batin, firasat dan kegelisahan jiwa lainnya) dengan sudut pandang orang pertama, Taufik ingin pesan puitisnya meresap lebih dalam ke hati pembaca muda.

“Cara bertutur itu membuat isi buku terasa dekat dengan kehidupan anak muda sehari-hari,” tambahnya.

Jadi Ketua IPTL

​Sebagai nakhoda Ikatan Penulis Tanah Laut (IPTL), Taufik telah mengawal terbitnya sembilan buku pribadi dan empat buku kolektif.

Memasuki pertengahan 2026, IPTL menargetkan konsistensi tinggi dengan rencana menerbitkan satu buku setiap bulan.

Sinergi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Tanah Laut pun diperkuat guna memperluas jangkauan promosi.

​Ia menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan budaya baca-tulis tidak tergerus zaman.

Melalui wadah IPTL, ia ingin memantik keberanian masyarakat untuk mulai merangkai kata.

“Harapan kami di IPTL bisa menjadi jalan dan motivasi bagi masyarakat untuk mau menulis, karena literasi kita masih perlu ditingkatkan,” tegas Taufik.

​Kini, karya-karya Taufik dan komunitasnya telah menghuni rak-rak Perpustakaan Daerah Kabupaten Tanah Laut, siap menyapa pembaca baru dan memastikan bahwa semangat literasi di Bumi Tuntung Pandang tetap menyala. (Wartabanjar.com/Gazali)

Editor: Yayu