Waspada Buat yang Suka Lembur dan Kerja Berlebihan Bisa Terkena Stroke
Mengutip penjelasan American Association of Neurological Surgeons, sel otak yang mati tidak dapat beregenerasi sehingga penderitanya mengalami penurunan kognitif, penurunan kemampuan fisik, atau penurunan fungsi mental.
Menurut keterangan dari American Heart Association, efek stroke yang dialami tiap orang dapat berbeda-beda, tergantung lokasi dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan.
Misalnya, apabila kerusakan terjadi pada area otak yang mengatur penglihatan, maka kemungkinan yang dapat terjadi yaitu disabilitas penglihatan.
Semakin luas jaringan otak yang rusak, maka semakin parah stroke yang dialami.
Jam Kerja Berlebih Meningkatkan Risiko Stroke
Sebuah jurnal yang diterbitkan The Lancet dengan judul “Long Working Hours and Risk of Coronary Heart Disease and Stroke" tahun 2015 menilai jam kerja yang berlebih sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 600 ribu subjek dari data yang diperoleh dari 25 studi di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa mereka yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko stroke lebih tinggi daripada mereka yang bekerja dalam waktu normal (35 sampai 40 jam per minggu).
Ini menunjukkan bahwa jam kerja berlebih dalam jangka panjang tidak baik untuk kesehatan tubuh.
Jam Kerja Berlebih Menurunkan Aktivitas Fisik
Masih mengutip jurnal yang sama, kematian mendadak karena terlalu banyak bekerja sering kali disebabkan oleh stroke.
Hal tersebut juga diyakini akibat respons stres yang terjadi berulang.
Aktivitas fisik yang kurang mungkin berhubungan dengan jam kerja yang panjang dan stroke.
Hipotesis ini didukung karena adanya bukti peningkatan risiko stroke pada mereka yang duduk dalam waktu lama saat bekerja.
Beberapa bukti meskipun tidak konsisten juga menunjukkan mereka yang bekerja lebih lama cenderung mengabaikan gejala penyakit.
Akibatnya, mereka cenderung tidak menghiraukan gejala kardiovaskular akut yang sedang dirasakan dan cenderung menunda memeriksakan diri ke dokter.
WHO juga Menjelaskan Hal yang Sama