Eropa Benua Pertama di Dunia Lewati Angka 50 Juta Kasus Covid-19
Sebuah tolok ukur yang bersifat tetap bagi COVID-19 akan memungkinkan produsen melakukan uji coba klinis hanya dengan sekian ribu orang, atau sekitar sepersepuluh ukuran penelitian yang diperlukan untuk mendapatkan izin penggunaan vaksin, kata peneliti dan produsen kepada Reuters.
Penelitian yang melibatkan puluhan ribu sukarelawan itu membandingkan tingkat infeksi COVID-19 pada orang yang menerima suntikan vaksin dengan tingkat infeksi orang yang menerima plasebo.
Uji coba terkontrol secara acak seperti itu mungkin tidak lagi dianggap etis di sejumlah negara, karena peneliti tidak boleh memberi suntikan palsu (plasebo) sementara vaksin yang efektif tersedia secara luas.
Selain itu, banyak vaksin baru sedang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan kecil yang mungkin tak mampu melakukan uji coba massal tanpa bantuan dana dari pemerintah atau mitra berkantong tebal. Dengan sebuah korelasi perlindungan, produsen dapat memeriksa sampel darah dari sejumlah kecil peserta uji coba yang menerima vaksin eksperimental untuk melihat apakah mereka memproduksi antibodi pelindung sesuai patokan.
Patokan semacam itu "sangat diperlukan" untuk membantu mengatasi tantangan yang dihadapi pengembang vaksin dan mempercepat ketersediaannya di pasar, kata Dr. Florian Krammer, ahli virus dari Icahn School of Medicine Rumah Sakit Mount Sinai di New York dalam sebuah artikel di jurnal Nature bulan ini.
Para peneliti Universitas Oxford akhir bulan lalu mengajukan calon korelasi perlindungan berdasarkan antibodi yang ditemukan pada penerima vaksin AstraZeneca. Hasil penelitian mereka menunggu ulasan sejawat oleh ilmuwan lain.
Hasil penelitian yang didukung AS pada vaksin Moderna diharapkan dapat dipublikasikan dalam jurnal kedokteran akhir musim panas ini.
"Kami sedang menyusun laporannya saat ini," kata Dr. Peter Gilbert, ahli biostatistika dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson.
Sejumlah pakar vaksin mempertanyakan apakah kadar antibodi akan menjadi indikator perlindungan yang cukup kuat. Komponen lain pada sistem kekebalan, seperti sel T dan sel B, dianggap memberikan pertahanan penting melawan COVID-19, tapi lebih sulit untuk diukur.