Suka Duka Guru di Papua, Jadi Pengajar Hingga Jadi Korban Penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata
Jarak dari kios ke sekolah tersebut sekitar empat kilometer pendakian dengan menggunakan motor di jalan rintisan.
Dahulu, pada kurun waktu 2010-2014, Oktovianus mesti melewati jalan setapak mendaki untuk mengajar.
Pengabdian luar biasa Oktovianus tersebut membuat hati kecil Nathalia yang tidak memiliki latar belakang pendidikan guru, juga tergerak untuk mengajar di SMP Negeri 1 Beoga.
Di sana, ia turut mengajar Bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Agama Kristen.
Mereka pun tak sempat memikirkan untuk pulang ke kampung halaman di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan.
Hanya sesekali saat waktu liburan tiba, pasangan tersebut turun ke Kota Timika, menemui kelima anak mereka yang bersekolah di sana.
“Almarhum benar-benar ingin anak-anak di atas betul-betul bisa membaca, menulis, apa yang mereka enggak tahu, bisa diajarkan,” ujarnya.
Atas pengabdian dan aktivitas kemanusiaan yang dilakukan Oktovianus semasa hidupnya, Menteri Sosial Tri Rismaharini memberikan penghargaan khusus.

Penghargaan tersebut juga diberikan untuk mendiang Yonatan Renden, seorang guru yang juga ditembak KKB pada Jumat (9/4/2021).
Risma memberikan penghargaan atas dedikasi para guru tersebut dalam pengabdian sosial untuk kemanusiaan di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.
Selain itu, dia juga memberikan santunan atas bencana sosial tersebut.
Penghargaan tersebut sedikit memberi arti bagi kehidupan keluarga yang ditinggalkan Oktovianus.
Nathalia pun bersyukur atas kunjungan Mensos Risma dan pemberian penghargaan tersebut.
Pesan Perdamaian
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi setinggi-tingginya atas nama pemerintah, karena telah membuka jalan bagi anak-anak di Papua mendapat pendidikan dan menjadi lebih baik.
Risma mengatakan pemerintah telah menggelontorkan dana otonomi khusus (otsus) yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan kehidupan masyarakat setempat, namun ada pula pihak-pihak yang tidak merasa puas.